Jakarta – Kesepakatan perdagangan Indonesia-Amerika Serikat (ART) membuka peluang ekspor lebih luas. Ada 1.819 pos tarif produk Indonesia yang mendapat tarif masuk 0% ke AS.
Namun, ekonom mengingatkan tarif rendah tidak otomatis meningkatkan ekspor.
Manfaatnya tergantung kesiapan industri nasional bersaing di pasar global.
Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menyebut fasilitas serupa juga diberikan ke negara lain. Persaingan tetap ketat.
“Banyak negara juga mendapat fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Menurut Tauhid, ekspor hanya bisa dimaksimalkan jika industri nasional meningkatkan produktivitas, kualitas, dan efisiensi biaya.
Ia mencontohkan sektor elektronik yang bersaing dengan negara ASEAN lain. Bahkan CPO pun punya banyak alternatif di pasar global.
Direktur Prognosa Research & Consulting, Garda Maharsi, mengatakan tidak semua sektor industri nasional siap.
Industri nikel, energi, dan petrokimia dinilai punya peluang besar. Kelapa sawit juga berpotensi memperluas pasar ekspor.
“Beberapa sektor memang punya peluang cukup kuat. Namun agar potensi itu benar-benar terwujud, ekosistem industrinya harus diperkuat,” kata Garda.
Penguatan itu termasuk kemudahan akses pembiayaan, perbaikan logistik, dan penguatan rantai pasok.
Sektor seperti tekstil, produk logam, dan mineral masih butuh peningkatan kapasitas agar bisa bersaing optimal.
Direktur Public Affairs Praxis, Sofyan Herbowo, menilai kapasitas produksi industri penting. Indonesia masih kuat di CPO.
“Indonesia masih menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk CPO sehingga memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar global,” kata Sofyan.







