Jakarta – Mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan dukungan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan meskipun terdapat perhatian publik terkait tata kelola dan keamanan pangan.
Temuan survei Adidaya Institute yang dirilis pada Rabu (7/10/2026) menunjukkan sebanyak 61,6 persen responden menginginkan keberlanjutan program tersebut.
Survei ini dilakukan secara tatap muka pada 15–21 September 2026 dengan melibatkan 1.240 responden yang tersebar di 38 provinsi.
Data tersebut memiliki margin of error sebesar 2,78 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.
Direktur Eksekutif Adidaya Institute, Rahman Toha Budiarto, mengungkapkan bahwa tingkat pengenalan masyarakat terhadap program MBG mencapai 93,4 persen.
“Dukungan publik terhadap MBG terbukti sangat kuat, sekitar enam dari 10 warga ingin program MBG dilanjutkan dan dua dari tiga warga merasa program ini bermanfaat,” ujar Rahman dalam konferensi pers di Jakarta.
Sebanyak 69,9 persen responden menyatakan setuju dengan program MBG, sementara 63 persen mengakui adanya dampak langsung terhadap keluarga mereka.
Sebagian besar responden juga menilai bahwa menu makanan yang disediakan melalui program MBG lebih bergizi, bervariasi, dan berkualitas dibandingkan konsumsi harian di rumah.
Di sisi lain, survei mencatat adanya kekhawatiran publik mengenai tata kelola dan aspek keamanan pangan dalam penyaluran makanan.
Sebanyak 41 persen responden mengaku masih merasa khawatir apabila anggota keluarganya menerima jatah makan dari program tersebut.
Direktur Politik dan Demokrasi Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, menegaskan perlunya penguatan aspek pengawasan untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Survei mencatat sebanyak empat dari 10 responden masih khawatir bila anggota keluarganya menerima MBG, dengan demikian rasa aman atas program MBG semestinya bisa segera kembali dipulihkan,” kata Fadhli.
Masyarakat cenderung memilih evaluasi dan pemberian sanksi tegas terhadap dapur penyedia atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bermasalah dibandingkan menghentikan program secara total.
Terkait aspek ekonomi, sebanyak 78,8 persen responden berharap pelaku usaha lokal dan UMKM dilibatkan secara aktif sebagai pemasok bahan pangan.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 40 ribu UMKM telah menjadi pemasok bahan pangan bagi program MBG di berbagai daerah.
Program MBG juga dinilai berperan penting dalam mendorong konsumsi pemerintah dengan nilai belanja barang mencapai Rp54,4 triliun pada kuartal pertama tahun 2026.
Mengenai kinerja kelembagaan, sebanyak 55 persen responden menyatakan puas terhadap Badan Gizi Nasional (BGN).
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Kepala BGN, Sudaryono, tercatat tinggi mencapai 76,1 persen.
Adidaya Institute merekomendasikan pemerintah untuk memperketat pemeriksaan berkala di dapur SPPG serta meningkatkan transparansi anggaran guna menjaga kualitas pelaksanaan program ke depan.







