Berita

DPR RI Desak Evaluasi Sistem Perlindungan Anak Usai Siswa SD Tewas Dianiaya

5
×

DPR RI Desak Evaluasi Sistem Perlindungan Anak Usai Siswa SD Tewas Dianiaya

Sebarkan artikel ini
siswa-di-pemalang-meninggal-akibat-perundungan,-keamanan-di-sekolah-perlu-diperkuat
siswa di pemalang meninggal akibat perundungan, keamanan di sekolah perlu diperkuat

Pemalang – Seorang siswa kelas 1 SDN 1 Kebondalem berinisial MHA meninggal dunia diduga akibat tindakan perundungan dan penganiayaan oleh kakak kelasnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania mendesak pemerintah segera mengevaluasi sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah pasca-tragedi tersebut.

Ina menyatakan bahwa mekanisme pencegahan dan deteksi dini kekerasan harus diperkuat agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya muncul setelah anak menjadi korban kekerasan.

“Negara jangan hanya hadir setelah anak menjadi korban,” ujar Ina melalui keterangannya pada Selasa (6/10/2026).

Menurut Ina, sistem perlindungan anak saat ini terbukti datang terlambat jika penanganan hanya dilakukan setelah korban mengalami luka parah atau meninggal dunia.

Ia menuntut aparat terkait menangani kasus di SDN 1 Kebondalem secara profesional sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Selain proses hukum, Ina menekankan pentingnya pendampingan sosial serta psikologis bagi keluarga korban dan siswa lain yang terdampak.

Sekolah wajib bertransformasi menjadi lingkungan yang aman dengan menyediakan mekanisme pelaporan kekerasan yang mudah diakses oleh siswa, orang tua, maupun guru.

Ina menambahkan bahwa evaluasi menyeluruh harus dilakukan untuk memahami mengapa sistem gagal mencegah terjadinya tragedi di sekolah tersebut.

“Jangan hanya mencari siapa yang salah, tetapi evaluasi mengapa sistem gagal mencegah tragedi,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki sistem agar setiap indikasi kekerasan mendapatkan respons cepat sejak dini.

Ina mengingatkan bahwa kematian satu orang anak akibat kekerasan sudah merupakan jumlah yang terlalu banyak.

“Satu anak meninggal sudah terlalu banyak,” pungkas Ina.