Ecozone

Implementasi B50 Berpotensi Hemat Devisa Negara Rp170 Triliun

70
×

Implementasi B50 Berpotensi Hemat Devisa Negara Rp170 Triliun

Sebarkan artikel ini
a92ad7bf948578301ff2637a4a9d5835.jpg
a92ad7bf948578301ff2637a4a9d5835.jpg

Cikampek, Fenesia.com – Pemerintah Indonesia resmi memperluas kemandirian energi nasional melalui implementasi program pencampuran biodiesel 50 persen atau B50 yang diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa lonjakan efisiensi ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan program B40 sebelumnya yang mencatatkan penghematan devisa sebesar Rp 133 triliun.

Ia mengungkapkan hal tersebut saat meresmikan implementasi B50 di Cikampek, Jawa Barat, pada Kamis (9/7).

“Pada B40 penghematan devisa Rp 133 triliun, dengan implementasi B50 ternyata (penghematan bisa) Rp 170 triliun,” ujar Bahlil dalam kesempatan tersebut.

Kebijakan strategis ini berlandaskan pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026.

Regulasi tersebut secara tegas mewajibkan seluruh badan usaha bahan bakar nabati dan penyalur minyak untuk mematuhi standar mutu yang telah ditetapkan pemerintah.

Program B50 diharapkan mampu menekan ketergantungan impor solar secara drastis sekaligus memacu nilai tambah industri minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

Bahlil menambahkan bahwa nilai tambah industri CPO diprediksi meningkat dari Rp 20,92 triliun menjadi Rp 23,49 triliun.

Dampak domino dari kebijakan ini juga menyasar sektor ketenagakerjaan dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja yang melonjak menjadi 2,1 juta orang.

Angka tersebut naik dibandingkan realisasi penyerapan tenaga kerja pada program B40 yang berada di kisaran 1,8 juta orang.

Pemerintah juga menargetkan peningkatan kebutuhan domestik CPO dari 15,2 juta ton menjadi angka di kisaran 16,3 hingga 17 juta ton.

Ia menegaskan bahwa langkah ini sekaligus memberikan kepastian pasar yang sangat dibutuhkan oleh para petani sawit nasional.

“Kalau harga CPO di luar negeri rendah dan negara lain tidak mau (membeli), kita bisa sisihkan untuk bangun industri hilirisasi B50,” ucapnya.

Menurutnya, strategi tersebut akan memastikan harga di tingkat petani tetap stabil dan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara luas.

Selain aspek ekonomi, program ini juga menjadi instrumen penting dalam upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca.

Estimasi penurunan emisi diproyeksikan mencapai 44,46 juta ton CO2 dari sebelumnya 39,66 juta ton CO2.

Bahlil turut mengklaim bahwa kualitas teknis B50 lebih unggul dibandingkan generasi sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa durasi penggantian filter mesin pada kendaraan dengan B50 mampu mencapai jarak 40 ribu kilometer.

Capaian tersebut jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan B40 yang memerlukan penggantian filter pada jarak 10 hingga 20 ribu kilometer.

Guna memastikan transisi berjalan mulus, pemerintah memberikan waktu bagi badan usaha BBM untuk menghabiskan stok spesifikasi B40 hingga 30 September 2026.

Evaluasi berkala terhadap pelaksanaan program ini akan dilakukan setiap tiga bulan untuk menjamin stabilitas pasokan dan distribusi.

Persiapan menyeluruh dari aspek teknis hingga regulasi telah dipastikan matang oleh pemerintah sebelum program ini resmi beroperasi penuh di seluruh wilayah Indonesia.