Ecozone

Wall Street Tertekan Usai Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Melonjak

10
×

Wall Street Tertekan Usai Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Melonjak

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik menunjukkan penurunan indeks saham di bursa Wall Street, New York.
Indeks bursa Wall Street mengalami tekanan jual signifikan akibat lonjakan imbal hasil obligasi AS pada Kamis (20/8/2026).

New York – Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mengalami tekanan jual signifikan pada perdagangan Kamis (20/8/2026) akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang memicu kekhawatiran investor terhadap beban biaya pinjaman.

Dilansir dari CNBC, pelemahan pasar saham terjadi meskipun Departemen Keuangan Amerika Serikat telah melakukan operasi pembelian kembali surat utang dalam skala besar untuk menstabilkan kondisi pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 703,84 poin atau 1,32% ke level 52.759,21 yang dipicu oleh anjloknya saham Walmart sebesar 9%.

Indeks S&P 500 turut melemah sebesar 0,87% ke posisi 7.641,16.

Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan sebesar 1% dan ditutup pada level 26.067,17.

Kenaikan imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun mencapai lebih dari 5 basis poin hingga menyentuh angka 4,704%.

Imbal hasil US Treasury bertenor 30 tahun juga terpantau meningkat lebih dari 5 basis poin ke level 5,248%.

Managing Director of Investments di EP Wealth Advisors, Adam Phillips, menilai bahwa langkah pemerintah saat ini belum cukup untuk meredakan tekanan struktural yang melanda pasar obligasi.

“Ini bukan solusi untuk masalah yang melanda pasar obligasi; ada kekuatan struktural yang berperan dan berada di luar kendali Departemen Keuangan maupun pemerintah,” kata Adam Phillips.

Adam Phillips menambahkan bahwa intervensi pemerintah hanya memberikan dampak positif sementara sehingga diperlukan langkah yang lebih kuat agar stabilitas pasar dapat bertahan lama.

Departemen Keuangan Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan rencana untuk menggandakan pembelian kembali surat utang bertenor 10, 20, dan 30 tahun dalam beberapa bulan ke depan.

Sentimen negatif pasar saham juga diperburuk oleh lonjakan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memulai operasi ekonomi yang sangat destruktif terhadap Iran sebagai bentuk tekanan baru.

“Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Donald Trump.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober melonjak hampir 3% menjadi US$ 86,83 per barel.

Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global juga mencatatkan kenaikan lebih dari 2% menjadi US$ 93,78 per barel.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa kenaikan biaya pinjaman dapat mengganggu reli pasar saham yang terjadi selama ini.

Ketidakpastian ekonomi global terus membayangi pergerakan bursa utama dunia seiring dengan respons kebijakan fiskal dan dinamika politik internasional.