Berita

Yogyakarta Perluas Jaga Warga: Upaya Jaga Kenyamanan Kota Wisata

137
×

Yogyakarta Perluas Jaga Warga: Upaya Jaga Kenyamanan Kota Wisata

Sebarkan artikel ini
09ff8a4d5f761e4f56eae5a02b462759.jpg
09ff8a4d5f761e4f56eae5a02b462759.jpg

Yogyakarta – Konsep pengamanan bersama “Jaga Warga” diperluas tidak hanya di kawasan Malioboro, melainkan kini diterapkan di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. Bahkan, gerakan ini turut diperluas ke seluruh kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melibatkan masyarakat secara aktif dalam menjaga keamanan dan kondusivitas.

Peluncuran perluasan gerakan ini dilakukan dalam dua apel terpisah pada Jumat, 21 November 2025. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memimpin apel di Polresta Yogyakarta, sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memimpin apel bertajuk Srawung Agung Jaga Warga untuk Jogja Damai di Polda DIY.

Jaga Warga merupakan konsep yang bertujuan menguatkan kepekaan antarwarga dan komunitas. Dengan partisipasi resmi warga, kota diharapkan semakin nyaman dikunjungi karena penanganan keamanan tidak selalu mengandalkan kepolisian, namun tetap menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

“Jaga Warga kini menjadi bagian penting ekosistem keamanan di Kota Yogya. Warga yang terlibat menjadi garda depan pengamanan dan ketenteraman wilayahnya,” ujar Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Hasto mencontohkan peristiwa demonstrasi ricuh pada 29 dan 30 Agustus lalu, di mana aksi anarkis terjadi di berbagai daerah termasuk pembakaran kantor Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Meskipun kawasan Malioboro sempat menjadi lokasi aksi, kericuhan dapat dihindari.

“Pada saat itu, Jaga Warga menjadi pihak pertama yang turun untuk memastikan situasi tetap terkendali,” kata Hasto. Ia menambahkan, “Kita tahu persis, ketika Malioboro atau titik-titik strategis lain terancam, yang pertama datang sebelum aparat tiba adalah warga. Ini menunjukkan betapa besar peran mereka dalam menjaga keamanan.”

Kini, penerapan Jaga Warga di Kota Yogyakarta diperluas ke setiap wilayah. Komunitas-komunitas masyarakat telah dibentuk dan diberi penanda berupa rompi sebagai identitas.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menegaskan pentingnya perluasan Jaga Warga ke seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut. Sultan menyebut kompleksitas ancaman masa kini semakin berlapis, sehingga konsep Jaga Warga relevan dengan paradigma baru keamanan yang berpusat pada masyarakat (people-centered security).

“Jaga Warga menjadi pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek dan mitra menjaga keamanan melalui empati, komunikasi dua arah, dan tanggung jawab bersama,” jelas Sultan.

Menurut Sultan, Jaga Warga mampu menjadi jembatan budaya, agar proses penegakan keamanan tidak semata-mata bertumpu pada tindakan represif, tetapi selalu dimulai dari dialog dan kebijaksanaan. “Keamanan sejati bukan pertama-tama perkara teknis, tapi lahir dari suasana batin, ketika warga dihormati, didengarkan, dan dilibatkan,” pungkas Sultan.