Petukangan Utara, Jakarta Selatan – Sejumlah warga di lingkungan RT.005/RW.002 mengolah limbah botol plastik menjadi sapu lidi bernilai ekonomi tinggi sebagai upaya pengelolaan sampah mandiri pada Sabtu (22/8/2026).
Dilansir dari Katadata.co.id, inisiatif kreatif ini melibatkan proses daur ulang sampah anorganik yang dilakukan secara kolektif oleh penduduk setempat di pos siskamling wilayah tersebut.
Proses produksi dimulai dengan meratakan bentuk botol plastik menggunakan bantuan udara panas dari mesin pengering rambut.
Botol yang telah rata kemudian dipotong memanjang sebelum dipadatkan melalui alat khusus berteknologi otodidak hingga menyerupai lidi sepanjang 70 centimeter.
Warga memproduksi dua jenis produk, yakni sapu jalan yang membutuhkan 150 batang lidi dan sapu kasur yang memerlukan 50 batang lidi.
Kapasitas produksi harian mencapai 10 unit sapu lidi yang bahan bakunya diperoleh dari sumbangan warga serta area olahraga di sekitar lingkungan RT.005/RW.002.
Produk sapu berukuran besar dijual dengan harga Rp35 ribu, sementara varian ukuran kecil dibanderol seharga Rp25 ribu per unit.
Ketua RT.005/RW.002, Syaifullah, menyatakan bahwa pemilihan sapu lidi didasarkan pada kebutuhan rumah tangga yang tinggi akan alat kebersihan tersebut.
“Pasar penjualannya juga cukup luas, ada yang pesan dari Sulawesi, Makassar, trus Jawa Timur juga ada,” kata Syaifullah.
Syaifullah menambahkan bahwa volume penjualan bulanan produk ini telah mencapai 50 unit sapu lidi plastik.
Keunggulan utama produk ini terletak pada durabilitas batang lidi yang diklaim lebih kuat dibandingkan sapu tradisional serta kemudahan dalam proses pembersihan kotoran.
Kegiatan yang telah berjalan selama lima bulan terakhir ini merupakan implementasi dari Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 mengenai pemilahan dan pengolahan sampah dari sumbernya.
Partisipasi masyarakat tergolong tinggi karena warga secara sukarela mengumpulkan dan menyerahkan botol bekas mereka ke lokasi pengolahan.
“Saya kan share juga, siapa yang mau sedekah botol, mereka mengantarkan sendiri sampahnya ke kami,” ujar Syaifullah.
Program ini diharapkan mampu menekan volume sampah plastik di wilayah Petukangan Utara secara signifikan.
Selain aspek lingkungan, gerakan ini bertujuan meningkatkan kreativitas warga sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi rumah tangga yang terlibat.
“Warga jadi lebih kreatif dan tentunya ada penghasilan tambahan juga,” kata Syaifullah.
Pengembangan skala produksi terus diupayakan agar pemanfaatan sampah anorganik menjadi produk bernilai ekonomi dapat menjangkau lebih banyak warga di masa depan.




