Jakarta – Industri baja nasional kini menghadapi tuntutan mendesak untuk melakukan dekarbonisasi sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing global di tengah rendahnya utilisasi kapasitas produksi dan tekanan emisi karbon yang terjadi pada Kamis (20/8/2026).
Dilansir dari laporan Climate Catalyst dan Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE-UGM), sektor ini memerlukan transformasi teknologi yang lebih efisien untuk merespons tantangan pasar internasional yang semakin ketat.
Kementerian Perindustrian mencatat bahwa produksi baja mentah Indonesia mencapai 17 juta ton pada 2024 dengan nilai ekspor sebesar US$12,4 miliar.
Utilisasi kapasitas industri baja nasional saat ini hanya berada di kisaran 62 persen, jauh di bawah standar ideal sebesar 80 persen yang diperlukan untuk menjaga kesehatan finansial perusahaan.
Tekanan operasional semakin diperberat oleh ketergantungan pada teknologi Blast Furnace-Basic Oxygen Furnace (BF-BOF) yang masih mengandalkan impor batu bara kokas dari negara seperti Australia dan China.
Produsen baja domestik juga menghadapi kompetisi sengit dari lonjakan ekspor baja asal China yang mencapai 118 juta ton pada 2024.
Penerapan kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menuntut produsen untuk segera memiliki kredensial rendah karbon agar produk mereka tetap dapat menembus pasar internasional.
Koordinator Riset Senior Climate Catalyst, Petra Christi, menyatakan bahwa pemerintah sebenarnya telah menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk sektor besi dan baja guna mengatasi hambatan struktural industri.
Kajian bertajuk Indonesia’s Low-Carbon Steel Opportunities to Maximise Industry Growth menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda iklim, melainkan peluang pertumbuhan ekonomi baru.
Menurut Petra Christi, langkah krusial saat ini bukan lagi sekadar menyusun regulasi baru, melainkan menunjukkan kemauan pemerintah untuk mengimplementasikan kebijakan yang sudah ada secara optimal, kata Petra.
Peralihan menuju teknologi Electric Arc Furnace (EAF) dinilai memiliki dampak ekonomi lebih besar dibandingkan penggunaan Blast Furnace konvensional.
Analisis PSE-UGM menunjukkan setiap Rp1 investasi pada EAF mampu menghasilkan output ekonomi sebesar Rp1,77, lebih tinggi dibanding investasi BF-BOF yang hanya menghasilkan Rp1,73.
Investasi pada teknologi EAF juga diproyeksikan menciptakan 4,25 lapangan pekerjaan untuk setiap Rp1 miliar modal yang disuntikkan, melampaui angka 4,15 pekerjaan pada teknologi BF-BOF.
Transformasi teknologi ini akan memicu pertumbuhan ekonomi di sektor pendukung seperti rantai pasok skrap, penyediaan energi terbarukan, dan jasa sertifikasi emisi.
Pemerintah perlu segera mengambil keputusan investasi dalam dua hingga tiga tahun ke depan karena pembangunan fasilitas Direct Reduced Iron-Electric Arc Furnace (DRI-EAF) membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam tahun.
Empat rekomendasi kebijakan utama yang diusulkan mencakup penguatan pertahanan perdagangan melalui SNI dan TKDN, optimalisasi Green Public Procurement, pengembangan rantai pasok skrap domestik, serta perluasan akses listrik terbarukan.
Petra Christi menegaskan bahwa dekarbonisasi merupakan strategi untuk memperkuat daya saing, membangun rantai pasok baru, menciptakan aktivitas ekonomi, sekaligus membawa industri baja Indonesia menuju fase pertumbuhan berikutnya, kata Petra.







