Jakarta – Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp 18.058 per dolar AS, menguat 0,72 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 18.188 per dolar AS.
Tren positif ini juga tecermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang membaik ke level Rp 18.141 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di angka Rp 18.171 per dolar AS. Penguatan ini dipicu oleh respons pasar yang optimistis terhadap langkah Bank Indonesia (BI) dalam mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyebut kebijakan suku bunga tersebut menjadi katalis utama bagi apresiasi rupiah. Menurutnya, keputusan otoritas moneter ini memberikan sinyal kuat kepada pasar mengenai komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan gejolak ekonomi global.
“Kenaikan suku bunga tersebut meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan memberikan sinyal kuat bahwa otoritas moneter berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya gejolak global,” ujar Rizal pada Selasa (9/6/2026).
Selain faktor suku bunga, penguatan rupiah juga didukung oleh langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing serta pasar obligasi secara terukur. Sentimen risiko global yang mulai membaik turut mendorong aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan dalam negeri, yang memberikan tambahan tenaga bagi pergerakan mata uang rupiah.
Namun, Rizal memberikan catatan bahwa apresiasi rupiah saat ini lebih cenderung sebagai respons jangka pendek pasar terhadap kebijakan moneter ketat, alih-alih perbaikan fundamental ekonomi yang bersifat permanen. Ia memperingatkan bahwa volatilitas mata uang tetap berpotensi tinggi selama tekanan eksternal belum mereda sepenuhnya. Beberapa variabel yang masih menjadi perhatian pasar di antaranya persepsi risiko fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta ketidakpastian pertumbuhan ekonomi nasional.
Rizal menambahkan bahwa keberlangsungan penguatan rupiah ke depan sangat bergantung pada sinergi kebijakan pemerintah dan BI dalam memperkuat fundamental ekonomi. Ia menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan serta memulihkan kepercayaan investor secara berkelanjutan.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), Rizal memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 17.980 hingga Rp 18.120 per dolar AS. Pelaku pasar diprediksi masih akan mencermati dampak lanjutan dari kenaikan BI Rate terhadap stabilitas pasar keuangan. Faktor eksternal seperti perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan bank sentral utama dunia, serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap menjadi variabel penentu pergerakan rupiah ke depan. Di sisi domestik, investor akan terus memantau konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter serta ketersediaan likuiditas valuta asing.







