Berita

Qatar Protes Keterlambatan Informasi AS Soal Serangan Israel ke Doha

147
×

Qatar Protes Keterlambatan Informasi AS Soal Serangan Israel ke Doha

Sebarkan artikel ini
b7c2e648e57158ab77466ae118cadedc.jpg
b7c2e648e57158ab77466ae118cadedc.jpg

Doha – Qatar membantah klaim Amerika Serikat (AS) yang menyebut telah memberi tahu sebelumnya mengenai rencana serangan Israel ke Doha, Selasa (9/9/2025). Serangan tersebut menargetkan pemimpin senior Hamas yang berada di ibu kota Qatar.

Qatar mengklaim baru menerima telepon dari AS setelah ledakan terjadi di Doha akibat serangan itu.

Gempuran Israel menyasar kawasan permukiman Doha, lokasi penting perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang dimediasi AS. Qatar sendiri merupakan mediator utama dalam perundingan tersebut.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya menyatakan militer AS telah memberitahu Presiden Donald Trump mengenai rencana serangan Israel ke Hamas di sebagian Doha.

Leavitt juga menyebut pengeboman sepihak di Qatar, negara berdaulat dan sekutu dekat AS, tidak akan menguntungkan Israel maupun Amerika. Trump, kata dia, memerintahkan utusan khususnya, Steve Witkoff, untuk memberitahu Qatar tentang serangan tersebut.

Namun, Pemerintah Qatar membantah klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan klaim Washington tidak benar.

“Klaim bahwa Pemerintah Qatar telah diberi tahu sebelumnya tentang serangan itu sepenuhnya salah,” tegas Al Ansari melalui akun X.

Al Ansari menjelaskan, Qatar baru menerima telepon dari pejabat Amerika saat ledakan terjadi akibat serangan Israel di Doha.

Serangan Israel itu menewaskan lima anggota Hamas. Pemimpin tim negosiasi Hamas, Khalil Al Hayya, selamat dari insiden. Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan satu anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri Qatar turut menjadi korban jiwa.