Jakarta, Fenesia.com — Pertemuan Leaders’ Retreat antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta hari ini menjadi momentum krusial bagi penguatan ekonomi kawasan melalui rencana penandatanganan 26 nota kesepahaman (MoU) di berbagai sektor strategis.
Agenda tahunan tersebut diselenggarakan di tengah posisi Singapura yang semakin dominan sebagai motor penggerak investasi asing langsung bagi Indonesia.
Singapura tercatat secara konsisten menduduki peringkat pertama sebagai negara penyumbang investasi asing terbesar di tanah air.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada kuartal I-2026 menunjukkan realisasi investasi dari negeri jiran tersebut mencapai US$ 4,6 miliar.
Angka capaian investasi ini melampaui kontribusi Hong Kong yang berada di angka US$ 2,7 miliar serta Tiongkok dengan US$ 2,2 miliar.
Investasi dari Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 1,3 miliar, sementara Jepang memberikan kontribusi sekitar US$ 1 miliar.
Secara akumulatif, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal I-2026 berhasil menyentuh angka Rp 250 triliun.
Capaian tersebut setara dengan 50,1% dari total realisasi investasi nasional secara keseluruhan.
Pertumbuhan investasi asing ini tercatat naik sebesar 8,5% secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Stabilitas ekonomi domestik Singapura menjadi faktor kunci yang menopang keberlanjutan arus modal keluar ke Indonesia.
Berdasarkan data pemerintah Singapura, produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 6,0% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal I-2026.
Realisasi pertumbuhan tersebut melampaui estimasi awal yang diprediksi berada di level 4,6%.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QoQ), ekonomi Singapura juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,0%.
Hasil ini merupakan pembalikan arah yang signifikan dari perkiraan awal yang sempat menunjukkan kontraksi sebesar 0,3%.
Peningkatan performa ekonomi tersebut didorong oleh membaiknya aktivitas domestik dan sektor eksternal di Singapura.
Kendati demikian, Kementerian Perdagangan Singapura tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 di kisaran 2,0% hingga 4,0%.
Kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan tingkat ketidakpastian ekonomi global yang masih tergolong tinggi.
Dari sisi harga, inflasi Singapura juga terpantau relatif terkendali dengan angka 1,8% pada Mei 2026.
Angka inflasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan perkiraan para ekonom yang mematok angka 2% dan tidak berubah dibandingkan posisi April.
Kinerja ekonomi yang solid ini turut memberikan dampak langsung pada penguatan nilai tukar dolar Singapura (SGD) terhadap rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang SGD diperdagangkan pada kisaran Rp 13.918 per SGD pada perdagangan hari ini.
Meskipun pergerakannya cenderung tipis dalam perdagangan harian, nilai tukar mata uang tersebut tetap berada di dekat level tertinggi dalam setahun terakhir.
Rentang perdagangan dolar Singapura selama 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp 12.565 hingga Rp 14.129 per SGD.







