Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan potensi penguatan terbatas pada perdagangan pekan depan. Ketidakpastian kondisi global, terutama tensi geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat, menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Sepanjang pekan ini, rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di posisi Rp 17.424 per dolar AS pada Selasa (5/5). Meski sempat menguat ke kisaran Rp 17.333 pada Kamis (7/5), rupiah kembali ditutup melemah tipis di level Rp 17.382 pada Jumat (8/5).
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup signifikan. Menurutnya, konflik geopolitik terkait blokade Selat Hormuz, kekhawatiran inflasi, serta kontraksi PMI manufaktur ke level 49,1 masih menjadi sentimen negatif yang menghambat pergerakan rupiah.
“Pasar akan mencermati data ketenagakerjaan AS, yakni US Non Farm Payrolls (NFP) yang dirilis akhir pekan ini. Data tersebut menjadi acuan penting untuk mengukur arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan,” ujar Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga akan memantau langkah stabilisasi yang diambil Bank Indonesia. Dinamika arus modal asing, posisi cadangan devisa, hingga kondisi fiskal nasional akan menjadi penentu utama daya tahan rupiah di pasar domestik.
Amru memperkirakan, rupiah pekan depan akan bergerak di kisaran Rp 17.250 hingga Rp 17.450 per dolar AS. Senada dengan hal tersebut, David memproyeksikan rupiah akan berada pada rentang Rp 17.200 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Peluang penguatan rupiah dinilai masih terbuka lebar jika sentimen global membaik dan permintaan terhadap dolar AS menurun. Namun, volatilitas tinggi tetap harus diwaspadai jika data ekonomi AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari ekspektasi, atau jika ketegangan geopolitik kembali memicu aliran dana investor ke aset safe haven.







