Istanbul – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa rencana kampanye tekanan ekonomi berskala besar yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran dipastikan akan mengalami kegagalan, Sabtu (22/8/2026).
Dilansir dari jpnn.com, pernyataan tersebut merupakan respons resmi pemerintah Iran terhadap ancaman sanksi ekonomi baru yang dirancang oleh Washington untuk memutus seluruh saluran keuangan yang mendukung otoritas di Teheran.
Araghchi menegaskan bahwa strategi Amerika Serikat dalam menekan Iran melalui jalur ekonomi tidak memiliki rekam jejak keberhasilan yang signifikan berdasarkan pengalaman historis selama lebih dari satu dekade terakhir.
“Empat belas tahun lalu, sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah, gagal,” kata Araghchi melalui platform media sosial pribadinya.
Selain menyinggung sanksi masa lalu, Araghchi juga mengklaim bahwa kebijakan “tekanan maksimum” yang diterapkan delapan tahun silam tidak membuahkan hasil yang diharapkan oleh Gedung Putih.
Dalam unggahannya, sang Menteri Luar Negeri turut menyinggung kegagalan upaya Trump lima bulan lalu yang sempat menyerukan agar Iran menyerah tanpa syarat kepada pihak Amerika Serikat.
Sebagai bentuk penegasan atas argumennya, Araghchi menyertakan gambar mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang memuat pernyataan tahun 2012 dari Joe Biden mengenai sanksi terhadap Iran.
Pernyataan Biden yang diunggah tersebut mendeskripsikan tindakan sanksi saat itu sebagai “sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah sanksi” yang pernah diterapkan terhadap sebuah negara.
Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan rencana peluncuran kampanye tekanan maksimum yang ia kategorikan sebagai bentuk “Perang Ekonomi dan Isolasi” terhadap Iran.
Presiden Trump memperingatkan bahwa setiap negara atau entitas yang memberikan bantuan ekonomi kepada Iran akan menghadapi konsekuensi berat dari Amerika Serikat.
Selain memberikan ancaman, Trump juga secara terbuka mengajak para sekutu Amerika Serikat untuk bergabung dalam upaya sistematis guna melumpuhkan seluruh sektor keuangan Iran.
Langkah ini diambil oleh Washington di tengah kebuntuan negosiasi diplomatik antara kedua negara yang semakin memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Trump menilai bahwa Iran saat ini tidak memiliki kepemimpinan definitif yang mampu merespons tuntutan internasional dengan baik.
Analis kebijakan luar negeri mencatat bahwa eskalasi ketegangan ini berpotensi mengubah lanskap geopolitik di kawasan Timur Tengah secara signifikan dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran hingga saat ini tetap bersikeras bahwa kebijakan ekonomi yang bersifat memaksa tidak akan mampu mengubah arah politik luar negeri mereka yang berdaulat.
Situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional mengingat besarnya dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan dari isolasi keuangan terhadap Iran.







