News

Jokowi Tegaskan Dunia Butuh PBB Versi Baru di Malaysia

1
×

Jokowi Tegaskan Dunia Butuh PBB Versi Baru di Malaysia

Sebarkan artikel ini
Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyampaikan pidato tentang perlunya reformasi PBB di Penang Peace Dialogue, Malaysia.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyerukan pembentukan PBB 2.0 dalam acara Penang Peace Dialogue di Malaysia.

Penang – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, menyerukan pembentukan “PBB 2.0” sebagai respons terhadap tantangan global yang semakin kompleks dan konflik lintas batas dalam pidatonya di acara Penang Peace Dialogue, Malaysia, pada Minggu (6/9/2026).

Dilansir dari jpnn.com, mantan pemimpin Indonesia tersebut menekankan urgensi transformasi institusi internasional agar tetap relevan dalam menjaga stabilitas dunia melalui diplomasi yang lebih kuat.

“Kita membutuhkan lembaga global yang lebih kuat, mediasi global yang lebih kuat, dan diplomasi global yang lebih kuat untuk menjaga perdamaian,” kata Jokowi.

Dia menyatakan bahwa dunia harus melampaui sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa yang lama untuk membangun edisi baru yang lebih efektif dalam merespons dinamika geopolitik terkini.

Menurut Jokowi, PBB perlu mendefinisikan ulang strategi, proses, dan sistem kerjanya guna menciptakan dunia yang lebih damai dan berkelanjutan bagi seluruh bangsa.

“Karena kemakmuran yang berkelanjutan hanya dapat dicapai ketika setiap negara memilih perdamaian daripada konflik, kerja sama daripada persaingan, dan kolaborasi daripada perpecahan,” kata Jokowi.

Ia menambahkan bahwa tidak ada negara yang mampu mencapai kesuksesan secara mandiri atau meraih kemakmuran di tengah situasi konflik yang berkepanjangan.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menjadikan Asia Tenggara sebagai model penting kolaborasi antarperadaban dalam dunia yang bersifat multipolar.

“Di sini, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan menuju pemahaman, kerja sama, dan kemajuan bersama,” kata Jokowi.

Ia mendorong agar nilai-nilai toleransi dan kerja sama yang diterapkan di Asia Tenggara juga menjadi pedoman bagi negara-negara maju di seluruh dunia.

Jokowi menegaskan bahwa kebesaran sebuah negara maju tidak cukup hanya diukur dari penguasaan teknologi atau kekuatan ekonomi semata.

“Negara-negara maju tidak boleh hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri,” kata Jokowi.

Ia menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari negara-negara maju untuk membangun kepercayaan serta memperkuat stabilitas global.

Forum Penang Peace Dialogue sendiri merupakan agenda internasional yang berfokus pada pembahasan isu-isu perdamaian dunia.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua Menteri Penang, Chow Kon Yeow, beserta jajarannya dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak Sabtu malam.

Hadir pula dalam forum tersebut Konsul Jenderal RI di Penang, Wanton Saragih, bersama sejumlah tokoh masyarakat serta perwakilan media internasional.

Pertemuan ini menjadi platform bagi para pemimpin dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan masa depan tata kelola global yang lebih inklusif.