Ecozone

Konglomerat Cina dan Haji Isam Kerek Harga Saham PACK

15
×

Konglomerat Cina dan Haji Isam Kerek Harga Saham PACK

Sebarkan artikel ini
Papan layar perdagangan saham PT Abadi Nusantara Hijau Tbk (PACK) di Bursa Efek Indonesia
Saham PT Abadi Nusantara Hijau Tbk (PACK) melonjak setelah adanya transformasi bisnis ke sektor pertambangan nikel.

Jakarta – PT Abadi Nusantara Hijau Tbk (PACK) mencatatkan lonjakan harga saham sebesar 61,61% dalam sebulan terakhir menjadi Rp 372 per saham, didorong oleh transformasi bisnis perusahaan dari sektor kemasan plastik menjadi pertambangan nikel pada Jumat (21/8/2026).

Dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, manajemen PACK mengonfirmasi bahwa perubahan wajah bisnis tersebut turut dibarengi dengan pergantian struktur pengendali perseroan.

“Pemegang saham pengendali Perseroan adalah Deng Weiming melalui kepemilikan pada PT Eco Energi Perkasa,” kata manajemen PACK.

Deng Weiming, yang merupakan Chairman CNGR Advanced Material, saat ini menguasai 40,56% saham emiten tersebut.

Transformasi bisnis secara total dimulai pada 21 Mei 2025 ketika perseroan mengalihkan aset bisnis kemasan plastiknya kepada PT Kemas Surya Teknovasi senilai Rp 54,17 miliar.

Setelah melepas bisnis lama, PACK resmi merambah sektor pertambangan nikel pada September 2025.

Struktur kepemilikan saham semakin diperkuat dengan masuknya pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, yang memiliki 21,12% saham atau setara 6,83 miliar lembar saham pada Mei 2026.

Haji Isam memperoleh saham tersebut dengan harga Rp 137 per lembar, yang kemudian menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga saham perusahaan di pasar modal.

Operasional nikel dijalankan melalui dua anak usaha, yakni PT Adhi Prakarsa Raya (APR) dan PT Sumber Cahaya Raya (SCR), yang masing-masing dikuasai 99,99% oleh perusahaan.

APR memiliki 34,5% saham PT Karyatama Konawe Utara (KKU) yang mengelola konsesi tambang seluas 3.119 hektar di Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, SCR memiliki 30% saham PT Konutara Sejati yang beroperasi di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara.

Laporan keuangan semester pertama 2026 menunjukkan KKU membukukan penjualan sebesar Rp 1,46 triliun, sedangkan Konutara Sejati mencatatkan penjualan Rp 1,05 triliun.

Berkat kontribusi tersebut, PACK mencatatkan bagian laba bersih sebesar Rp 202,84 miliar melalui metode ekuitas.

Kinerja keuangan perseroan membaik secara signifikan dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 190,73 miliar pada semester pertama 2026, berbalik dari posisi rugi Rp 14,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan laba tersebut setara dengan kenaikan sekitar 1.429,13% secara tahunan.

Penjualan neto perusahaan juga melonjak menjadi Rp 213 miliar, jauh melampaui capaian tahun lalu yang hanya sebesar Rp 20,54 miliar.

Sebagian besar produk nikel PACK diserap oleh PT Nadesico Nickel Industry, sebuah perusahaan smelter yang berlokasi di Kawasan Industri PT Stardust Estate Industry, Sulawesi Tengah.

PT Nadesico Nickel Industry menyumbang 96,21% atau setara Rp 204,93 miliar dari total pendapatan perdagangan nikel perusahaan.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa peralihan fokus ke rantai bisnis nikel menjadi katalis utama bagi perbaikan kinerja fundamental perseroan.

Analis menilai kontribusi dari entitas asosiasi di sektor nikel telah berhasil membawa dampak positif terhadap posisi keuangan emiten tersebut.

Kehadiran Haji Isam sebagai pemegang saham strategis dinilai memperkuat posisi PACK dalam ekosistem industri nikel nasional.