Pasuruan – Digitalisasi bantuan sosial (bansos) terbukti efektif. Hal ini disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Akurasi data penerima bansos meningkat signifikan berkat digitalisasi.
Pernyataan itu disampaikan saat sosialisasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) di Kabupaten Pasuruan.
Gus Ipul mencontohkan uji coba di Banyuwangi, Jawa Timur.
“Dari hasil uji coba, kesalahan data penerima bansos melalui Program Keluarga Harapan (PKH) serta Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) berkurang secara signifikan, meski masih tinggi,” kata Gus Ipul, Sabtu (7/2/2026).
Sebelum digitalisasi, kesalahan data penerima manfaat (exclusion error) untuk PKH mencapai 77,7 persen dan BPNT 70 persen.
Setelah uji coba, kesalahan data turun menjadi 28,2 persen untuk PKH dan 17,6 persen untuk BPNT.
Kesalahan data pada penerima manfaat yang terdaftar (inclusion error) juga berkurang. Dari 46,5 persen menjadi 39,8 persen untuk PKH, dan dari 37,7 persen menjadi 29,6 persen untuk BPNT.
“Harapannya agar kesalahan data dapat ditekan sampai di bawah sepuluh persen atau bahkan lima persen,” ujarnya.
Gus Ipul mengakui akurasi data 100 persen sulit dicapai karena dinamika sosial.
Pembaruan DTSEN akan dilakukan setiap hari. Laporan BPS akan diberikan setiap tiga bulan.
Uji coba akan terus dilaksanakan sepanjang 2026 di 40 kabupaten/kota.
Evaluasi uji coba diharapkan menjadi rujukan penerapan digitalisasi bansos lebih luas.
“Semua demi memastikan masyarakat yang memang layak mendapatkan bansos, atau yang berada di dalam desil bawah DTSEN, dapat terjangkau dan merasakan manfaatnya,” pungkasnya.







