Ecozone

Cadangan Devisa September Menyusut, Ini Pemicu Utama Penurunannya

101
×

Cadangan Devisa September Menyusut, Ini Pemicu Utama Penurunannya

Sebarkan artikel ini
a57b1b4cf1fa43b28f57e56178711cc1.jpg
a57b1b4cf1fa43b28f57e56178711cc1.jpg

Jakarta – Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2025 tercatat sebesar US$ 148,7 miliar, menurun US$ 2 miliar dari posisi akhir Agustus 2025 yang sebesar US$ 150,7 miliar. Penurunan ini menjadi yang ketiga kalinya secara berturut-turut sejak Juli 2025.

Bank Indonesia (BI) melaporkan, penurunan cadangan devisa telah dimulai sejak Juli 2025, ketika posisi turun ke US$ 152 miliar dari US$ 152,6 miliar pada akhir Juni. Kemudian pada Agustus, cadangan devisa kembali berkurang menjadi US$ 150,7 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi pada Selasa, 7 Oktober 2025, menjelaskan bahwa perkembangan tersebut dipengaruhi antara lain oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Menurut Denny, posisi cadangan devisa pada September tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini juga masih berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.

Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat, sejalan dengan prospek ekspor yang tetap terjaga. BI juga optimistis bahwa neraca transaksi modal dan finansial akan tetap mencatatkan surplus. Hal ini didukung oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik, ujar Denny.

Sebelumnya, BI juga mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2025 sebesar US$ 432,5 miliar atau setara Rp 7.094,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.402 per dolar Amerika Serikat). Angka ini menurun dibandingkan Juni 2025 yang tercatat sebesar US$ 434,1 miliar. Dengan demikian, ULN pada Juli 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,1 persen secara tahunan, melambat dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,3 persen year on year.

Pada Juli 2025, posisi utang luar negeri pemerintah tercatat sebesar US$ 211,7 miliar atau tumbuh sebesar 9,0 persen year on year. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan pada Juni 2025 yang tercatat sebesar 10,0 persen year on year. Denny menyebut, perkembangan ini dipengaruhi perlambatan pertumbuhan posisi pinjaman luar negeri dan surat utang pemerintah.

Sementara itu, pertumbuhan ULN swasta terkontraksi seperti bulan sebelumnya. BI mencatat posisi ULN swasta pada Juli 2025 relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar US$ 195,6 miliar atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,3 persen secara tahunan.