Fenesia – Amerika Serikat (AS) kini memegang kendali penuh atas penjualan minyak Venezuela. Hal ini menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu (3/1/2026).
Wakil Presiden AS, JD Vance, secara terbuka menyatakan bahwa Venezuela hanya dapat menjual minyaknya jika sesuai dengan kepentingan nasional AS.
“Kami mengendalikan sumber daya energinya, dan kami memberi tahu rezim: Anda boleh menjual minyak selama itu melayani kepentingan nasional Amerika. Jika tidak, Anda tidak diizinkan menjualnya,” tegas Vance dalam acara “Jesse Waters Primetime” di Fox News, Rabu (7/1/2026).
Washington mengklaim telah mengontrol “urat nadi keuangan” Venezuela setelah serangan militer dan penangkapan pemimpinnya.
Departemen Energi AS mengumumkan pihaknya telah mulai memasarkan minyak mentah Venezuela. Seluruh pendapatan akan disimpan di rekening yang dikendalikan AS di bank-bank internasional.
“Kami telah melibatkan pedagang komoditas terkemuka dunia dan bank-bank utama untuk mengeksekusi penjualan minyak mentah dan produk turunannya,” demikian pernyataan resmi Departemen Energi AS.
Langkah ini diambil setelah AS menangkap Maduro dan melanjutkan pemblokade terhadap kapal tanker di perairan Venezuela.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan, negaranya akan memurnikan dan menjual hingga 50 juta barel minyak Venezuela yang tertahan akibat blokade. Bahkan, AS menyita kapal tanker Rusia yang terkait Venezuela di Samudra Atlantik.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan AS perlu mengendalikan penjualan minyak dan pendapatan Venezuela “tanpa batas waktu” demi menstabilkan ekonomi dan membangun kembali sektor energinya.
Pendapatan minyak akan digunakan untuk menstabilkan ekonomi Venezuela dan membayar kompensasi kepada perusahaan minyak AS seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips, yang asetnya dinasionalisasi pada era Presiden Hugo Chavez.
AS akan memasarkan minyak Venezuela yang tersimpan terlebih dahulu, termasuk ke kilang-kilang AS yang memiliki teknologi khusus untuk mengolah minyak berat Venezuela. Seluruh pendapatan disetor ke rekening yang dikendalikan pemerintah AS.
Washington juga mengklaim telah mencapai kesepakatan awal dengan Caracas untuk mengekspor hingga 2 miliar dollar AS minyak mentah ke AS.
Kesepakatan ini dinilai sebagai sinyal bahwa otoritas Venezuela mulai merespons tuntutan Trump agar membuka akses penuh bagi perusahaan minyak AS.
Trump bahkan menginginkan pemerintahan sementara Presiden Venezuela Delcy Rodriguez memberikan “akses total” kepada AS dan perusahaan swasta Amerika di sektor minyak Venezuela, atau menghadapi risiko intervensi militer lanjutan.
Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, mengonfirmasi negosiasi penjualan minyak dengan AS masih berlangsung. Anggota direksi PDVSA, Wills Rangel, menegaskan AS harus membeli minyak Venezuela dengan harga pasar internasional.
Di tengah perkembangan ini, saham sejumlah perusahaan kilang AS seperti Marathon Petroleum, Phillips 66, dan Valero Energy dilaporkan menguat.
Produksi minyak Venezuela merosot tajam dalam beberapa dekade terakhir, dari sekitar 3,5 juta barel per hari pada 1970-an menjadi sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu, akibat salah urus dan minim investasi. AS meyakini peningkatan produksi jangka pendek masih mungkin dilakukan, meski pemulihan penuh akan memakan waktu bertahun-tahun.







