New York – Sentimen positif terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran berhasil memicu reli di bursa saham Wall Street, Kamis (7/5/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi seiring merosotnya harga minyak global.
Harga minyak mentah tercatat turun sekitar 5% hingga menjauh dari level psikologis US$100 per barel. Penurunan ini didorong oleh harapan investor bahwa kesepakatan terbatas antara AS dan Iran dapat meredam ketegangan geopolitik serta memulihkan pasokan energi melalui jalur Selat Hormuz.
Pada pukul 09.30 waktu setempat (ET), indeks Dow Jones Industrial Average menguat 192,59 poin atau 0,39% ke level 50.091,92. S&P 500 naik tipis 6,38 poin atau 0,09% ke 7.374,11, sementara Nasdaq Composite tumbuh 40,33 poin atau 0,16% ke posisi 25.879,28.
Meski pasar secara umum menguat, sektor teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak Wall Street mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh. Saham produsen chip mengalami tekanan setelah muncul kekhawatiran pasokan, di mana saham Arm Holdings anjlok 7,4%, Intel turun 3,3%, dan Nvidia melemah 0,3%.
Di sisi ekonomi makro, data tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan yang solid. Angka klaim tunjangan pengangguran tercatat naik lebih rendah dari perkiraan, memperkuat keyakinan bahwa pasar kerja masih terjaga di tengah ekonomi yang tetap stabil.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kini memprediksi Federal Reserve akan menahan suku bunga acuan hingga akhir tahun. Ekspektasi ini bergeser dari proyeksi sebelumnya yang sempat memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Pergerakan saham individual di bursa kali ini terpantau bervariasi. McDonald’s mencatatkan kenaikan 2,7% setelah melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi. Begitu pula dengan Datadog yang melonjak hampir 30% berkat kenaikan proyeksi laba tahunan.
Namun, sentimen negatif menghantam sejumlah emiten lainnya. Saham Snap anjlok 8% akibat dampak konflik Timur Tengah terhadap pendapatan iklan, sementara Whirlpool terjun bebas 22% setelah gagal memenuhi target penjualan dan memutuskan untuk menangguhkan pembagian dividen.
Ke depan, investor kini memfokuskan perhatian pada rilis data nonfarm payrolls yang dijadwalkan pada Jumat. Data ini diproyeksikan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.







