Jakarta – Kompetisi sepak bola kasta kedua Indonesia, Championship, akan resmi bergulir pada 11 September 2026 dengan pengelola baru bernama PT Liga Utama Indonesia yang bertujuan meningkatkan kemandirian bisnis klub profesional.
Dilansir dari Fenesia, pembentukan badan hukum khusus ini merupakan tindak lanjut dari keputusan kongres tahun 2023 yang menghendaki pemisahan entitas pengelola agar lebih transparan dalam pembagian keuntungan maupun tanggung jawab kerugian.
General Manager I.League, Budiman Dalimunthe, menyatakan bahwa pemisahan entitas bisnis dilakukan secara bertahap untuk membedakan pengelolaan antara kompetisi Super League dan Championship.
“Dengan adanya PT Liga Utama Indonesia, perlahan tetapi pasti nantinya akan menjadi lebih mandiri,” kata Budiman seusai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Selasa (25/8/2026).
Sebanyak 20 klub peserta akan dibagi ke dalam dua wilayah, di mana juara masing-masing grup akan memperebutkan tiket promosi ke Super League melalui babak playoff di tempat netral.
Mekanisme penentuan peringkat kedua untuk babak playoff kini menggunakan sistem penilaian khusus, bukan lagi sekadar akumulasi perolehan poin di klasemen akhir.
Tim yang finis di posisi ke-10 akan terdegradasi secara otomatis, sementara tim di peringkat kesembilan wajib mengikuti pertandingan playoff degradasi untuk mempertahankan posisi mereka.
Format kompetisi tetap menerapkan sistem double round-robin dengan total 273 pertandingan, ditambah satu laga tambahan yang penentuan status kandang-tandangnya didasarkan pada peringkat klub.
Klub dengan peringkat lebih tinggi mendapatkan keuntungan berupa lima pertandingan kandang dalam mekanisme penyesuaian tersebut, sementara sisanya tetap mengikuti format sembilan laga kandang dan tandang.
Pertandingan pembuka antara PSIS Semarang melawan PSPS di Semarang telah disetujui dalam RUPS sebagai langkah awal dimulainya musim kompetisi baru.
Pemilihan lokasi pertandingan pembuka didasarkan pada kualitas stadion yang telah memenuhi standar premium serta pertimbangan aspek komersial yang matang.
PT Liga Utama Indonesia juga akan menyelenggarakan kompetisi Elite Pro Academy (EPA) sebagai bagian dari upaya pengembangan bakat muda di bawah payung manajemen baru.
Kebijakan kehadiran suporter tandang akan merujuk pada regulasi Super League dengan batasan alokasi antara 5 hingga 8 persen dari total kapasitas stadion.
Izin kehadiran penonton tim tamu sangat bergantung pada kesiapan Local Organizing Committee (LOC), kondisi keamanan, serta hasil evaluasi rekam jejak pertemuan kedua klub sebelumnya.
Nama PT Liga Utama Indonesia dipilih untuk menegaskan bahwa seluruh klub yang berkompetisi merupakan entitas profesional yang memiliki potensi untuk menembus level tertinggi.
Sebanyak 38 klub profesional saat ini diwajibkan memenuhi tujuh kriteria lisensi yang ketat agar memiliki standar yang setara dengan klub-klub di Super League.
“Makanya namanya menjadi Liga Utama, bukan kelas satu atau kelas dua,” kata Budiman.
Dari sisi pendanaan, PT Liga Utama Indonesia memastikan bahwa Pegadaian akan kembali menjadi sponsor utama kompetisi untuk musim mendatang.
Manajemen juga membuka peluang bagi masuknya mitra komersial tambahan guna memperkuat ekosistem finansial seluruh klub yang berada di bawah naungan PT Liga Utama Indonesia.







