Jakarta – CEO Tempo Digital, Wahyu Dhyatmika, menyatakan Tempo fokus pada jurnalisme berbasis AI.
Strategi ini dilakukan melalui pengelolaan arsip dan aset digital.
Menurut Wahyu, ini adalah strategi bertahan di era AI. Bukan sekadar eksperimen teknologi.
Ada dua prinsip utama agar media tetap sustainable di tengah gempuran AI.
Pertama, kenali audiens secara langsung (first party data).
Selama ini, media hanya tahu jumlah pembaca, bukan siapa mereka.
Data audiens dikuasai platform seperti Google, Meta, TikTok, hingga X.
Akibatnya, media kehilangan hubungan langsung dengan pembaca.
“Kita hanya tahu pageview, tahu jumlah klik. Tapi siapa satu juta orang itu? Kita tidak tahu. Yang tahu justru platform,” ujarnya.
Kedua, pahami diferensiasi konten. Media tak bisa lagi sekadar mengejar kecepatan atau trending topic.
“Tapi sekarang AI dan algoritma platform lebih menghargai otoritas, autentisitas, dan originalitas,” kata Wahyu.
Tempo mengembangkan Digital Asset Management (DAM) berbasis arsip sejak 1971.
Wahyu menilai, puluhan tahun produksi jurnalistik Tempo adalah kekayaan pengetahuan.
Namun, nilainya belum maksimal selama tersimpan di arsip.
Dengan dukungan pendanaan dan mentoring, Tempo ingin mengubah arsip itu menjadi alat yang bisa digunakan pembaca.
Tujuannya, untuk memahami konteks besar suatu isu.
“Bayangkan pembaca ingin tahu sikap Indonesia terhadap Palestina sejak 1970-an. Dengan tools ini, dia bisa melacak setiap era, setiap presiden, setiap perubahan kebijakan,” jelasnya.
AI bukan menggantikan redaksi, tetapi memberi kendali lebih besar kepada pembaca.
Tujuannya, untuk mengeksplorasi konteks secara mendalam.
Wahyu menegaskan, potensi AI lebih besar dari sekadar produksi otomatis.
Menurutnya, AI adalah kelanjutan logis dari era big data.
Masalahnya, mesin AI “minum dari semua sumber”, termasuk data yang tidak terverifikasi.
Di sinilah media berperan sebagai gatekeeper. Arsip media yang terverifikasi menjadi sumber data berkualitas bagi AI.
“Justru di era AI ini, fungsi wartawan di hulu makin penting. Karena hanya jurnalis yang punya metode verifikasi,” tegasnya.
Wahyu juga mengkritik praktik media yang terlalu mengejar traffic dan sensasi.
Di era AI, menurutnya, traffic bukan lagi segalanya.
Informasi berkualitas bisa diproses ulang dan disajikan sesuai kebutuhan spesifik pengguna.
“Ini kesempatan untuk meluruskan kembali jurnalisme ke fitrahnya: memproduksi informasi yang penting, bukan sekadar yang menarik,” katanya.
Pemerintah telah merilis roadmap pengembangan AI.
Namun, aspek keberlanjutan media dan perlindungan karya jurnalistik masih dalam tahap diskusi.
Bersama konstituen di Dewan Pers, media mendorong tata kelola AI yang menjamin integritas informasi.
Tujuannya, untuk pencegahan hoaks, perlindungan hak cipta, dan skema kompensasi bagi media.
Menurut Wahyu, masa depan jurnalisme sangat ditentukan oleh keputusan hari ini.
Jika AI memberi kompensasi yang adil, maka AI bisa menjadi “jalan pulang” bagi jurnalisme.
Namun jika tidak diatur dengan baik, media dan wartawan bisa terpinggirkan.
“Ini era krusial. Optimis atau pesimisnya masa depan media tergantung apa yang kita lakukan hari ini,” pungkasnya.







