Ecozone

Kondisi Sekolah di NTT Pasca-Gempa: Siswa Belajar di Tenda Darurat

1
×

Kondisi Sekolah di NTT Pasca-Gempa: Siswa Belajar di Tenda Darurat

Sebarkan artikel ini
Siswa mengikuti kegiatan belajar di dalam tenda darurat pasca-gempa bumi di NTT.
Siswa di Nagekeo, NTT, terpaksa belajar di tenda darurat akibat kerusakan sekolah pasca-gempa.

Nagekeo, Nusa Tenggara Timur – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen untuk melakukan revitalisasi terhadap sejumlah fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026).

Dilansir dari Katadata, bencana alam yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay tersebut telah menyebabkan kerusakan infrastruktur pada tujuh kabupaten di Pulau Flores, termasuk melumpuhkan kegiatan belajar-mengajar di SDK Rowa dan SD Inpres Ngelapadhi.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti meninjau langsung kondisi bangunan sekolah yang terdampak di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada untuk memastikan proses pemulihan segera dilaksanakan.

Kegiatan belajar bagi 155 siswa SDK Rowa dan 117 siswa SD Inpres Ngelapadhi saat ini terpaksa dipindahkan ke tenda posko darurat yang tersebar di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Wakil Kepala SDK Rowa, Hendrika Wolo Kile, menyatakan bahwa seluruh ruang kelas di sekolah tersebut tidak lagi dapat digunakan karena mengalami kerusakan struktural yang parah.

“Selama beberapa hari kami belajar di empat posko di lingkungan masing-masing karena ruangan kelas kami rusak berat,” kata Hendrika Wolo Kile.

Bangunan SDK Rowa yang telah berdiri sejak tahun 1976 tersebut memang memiliki sejarah panjang kerentanan terhadap guncangan gempa bumi.

Hendrika Wolo Kile menambahkan bahwa meskipun bangunan sempat direhabilitasi pada 7 Januari lalu, struktur lama tersebut tetap tidak mampu menahan intensitas guncangan gempa terbaru.

Di lokasi berbeda, Kepala Sekolah SD Inpres Ngelapadhi, Monika Duy, mencatat bahwa kerusakan parah juga menimpa enam ruang kelas, kantor sekolah, serta laboratorium di fasilitas pendidikan yang dipimpinnya.

Menanggapi situasi tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kementerian telah menyiapkan anggaran melalui Anggaran Belanja Tambahan tahun 2026 untuk mempercepat perbaikan sekolah.

Pemerintah juga telah menyalurkan bantuan berupa 20 tenda kelas darurat, ribuan buku, paket perlengkapan sekolah, serta voucher bantuan tunai bagi sekolah yang terdampak.

“Sekolah ini sudah selesai revitalisasi nanti diajukan lagi yang baru bagi yang masih dalam proses pengerjaan yang dapat revitalisasi 2026,” kata Abdul Mu’ti.

Selain bantuan fisik, Kemendikdasmen juga memberikan santunan duka bagi keluarga guru dan murid yang meninggal dunia, serta menyediakan layanan trauma healing bagi siswa yang terdampak secara psikologis.

Tim teknis dari kementerian dijadwalkan akan segera melakukan verifikasi dan validasi lapangan bersama dinas pendidikan setempat untuk menghitung kebutuhan anggaran renovasi secara akurat.

Para siswa di kedua sekolah tersebut kini harus tetap bertahan di posko darurat sembari menunggu kepastian waktu perbaikan gedung sekolah mereka selesai dilakukan.