Jakarta – JP Morgan Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menyentuh level 7.000 pada akhir tahun 2026, sebuah revisi target dari estimasi awal sebesar 10.000 yang ditetapkan pada akhir tahun lalu, dalam sebuah paparan yang berlangsung pada Kamis (3/9/2026).
Dilansir dari keterangan resmi JP Morgan, lembaga jasa keuangan tersebut tetap mempertahankan optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia meskipun terdapat tekanan margin pada sejumlah sektor akibat kenaikan biaya input.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan, Benny Kurniawan, menyatakan bahwa target tersebut didorong oleh ekspektasi perbaikan sentimen pasar serta posisi investor, baik domestik maupun asing, yang saat ini berada pada level rendah.
Benny Kurniawan mengatakan, “Tim JP Morgan masih expect target JCI ke Desember itu di 7.000, sehingga kami masih expect ada kenaikan sampai akhir tahun yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor yang sudah cukup rendah tahun ini.”
Data bursa mencatat bahwa investor asing telah melakukan aksi jual bersih atau net sell saham Indonesia sebesar Rp 69,09 triliun sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026).
JP Morgan memantau bahwa posisi kas atau cash level pada sejumlah reksa dana ekuitas di Indonesia saat ini relatif tinggi, yang dinilai dapat menjadi sumber likuiditas untuk kembali masuk ke pasar saham.
Benny Kurniawan mengungkapkan, “Kita sudah down 23%, padahal earnings kita masih naik 6% tahun ini, yang berarti semuanya itu kan hampir kebanyakan multiple derating atau sentimen yang kurang baik.”
IHSG tercatat telah mengalami koreksi sekitar 23% secara year to date akibat tekanan eksternal berupa kenaikan harga minyak, suku bunga yang masih tinggi, serta imbal hasil obligasi.
Kondisi pasar di negara maju yang cenderung menguat turut menarik minat investor, sehingga mengalihkan arus modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Isu terkait MSCI yang muncul pada akhir Januari lalu memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia dengan memicu arus keluar atau equity outflow sekitar US$ 4 miliar hingga US$ 5 miliar sepanjang tahun ini.
Investor juga menaruh perhatian pada potensi fenomena El Nino yang secara historis dapat mengganggu produksi pangan nasional dan regional.
Komoditas yang menjadi perhatian utama meliputi beras, gula, kopi, serta gandum, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gandum terbesar di dunia yang harganya sedang mengalami tren kenaikan.
Meski menghadapi berbagai tantangan makro, Benny Kurniawan mencatat bahwa kinerja perusahaan yang dipantau oleh JP Morgan menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan laba sebesar 6% secara tahunan pada paruh pertama tahun ini.
Pertumbuhan laba tersebut melampaui ekspektasi awal analis yang sebelumnya memprediksi kinerja emiten pada tahun 2026 akan mengalami kontraksi dalam kisaran low single digit.
Benny Kurniawan menambahkan, “Walaupun banyak backdrop yang kurang positif, tapi kalau kita lihat dari perusahaan-perusahaan yang kami cover tahun ini, di paruh pertama, pertumbuhan earnings mereka itu masih 6%, masih up year on year.”
Prospek pertumbuhan laba emiten untuk tahun 2027 dipandang masih cukup positif, yang diharapkan dapat mendukung pemulihan IHSG di masa mendatang.







