Ecozone

Danantara Pangkas 29 Anak Usaha Brantas Abipraya Demi Efisiensi BUMN

5
×

Danantara Pangkas 29 Anak Usaha Brantas Abipraya Demi Efisiensi BUMN

Sebarkan artikel ini
Logo PT Brantas Abipraya dan kantor pusat BUMN di Jakarta.
Danantara memangkas 29 anak usaha PT Brantas Abipraya untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah merampungkan proses pemangkasan 29 entitas anak usaha PT Brantas Abipraya (Persero) untuk mengembalikan fokus perusahaan sebagai kontraktor utama pada Kamis (3/9/2026).

Dilansir dari akun Instagram resmi BP BUMN, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa langkah streamlining ini bertujuan memperkuat fundamental perusahaan dengan hanya menyisakan induk usaha sebagai entitas bisnis inti.

Dony Oskaria menegaskan bahwa Brantas Abipraya diproyeksikan menjadi salah satu badan usaha milik negara (BUMN) Karya yang paling cepat menyelesaikan proses efisiensi tersebut.

“Saya harapkan nanti setelah selesai pembersihan ini, ke depannya betul-betul fokus kepada bisnis kontraktor, Brantas tinggal induknya dan ini termasuk perusahaan yang paling sehat,” kata Dony Oskaria.

Proses pemangkasan anak usaha yang dinilai tidak lagi menopang bisnis utama ini menjadi bagian dari agenda transformasi besar-besaran yang dipimpin oleh Danantara terhadap seluruh BUMN Karya.

Di sisi lain, Dony Oskaria mengungkapkan bahwa total beban utang dari seluruh BUMN Karya saat ini telah menembus angka Rp 180 triliun.

Danantara mencatat bahwa dari tujuh BUMN Karya yang berada di bawah pengelolaannya, hanya tiga perusahaan yang memiliki kondisi keuangan relatif sehat, yaitu PT Nindya Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Hutama Karya.

Pihak Danantara berkomitmen untuk menjaga ketiga entitas sehat tersebut agar tidak terimbas oleh persoalan keuangan yang membelit empat BUMN Karya lainnya.

Dony Oskaria menjelaskan bahwa permasalahan keuangan yang dihadapi BUMN Karya tidak hanya bersumber dari induk perusahaan, melainkan juga dari anak-anak usaha yang tidak produktif.

“Karya ini tidak hanya punya masalah di induknya, tetapi juga punya masalah di anak-anaknya, inilah makanya proses perbaikan karya ini harus satu persatu dan dampaknya ini juga kami pikirkan,” ucap Dony Oskaria.

Terkait restrukturisasi, Danantara menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menempuh langkah yang bersifat sementara atau sekadar memperbaiki citra laporan keuangan semata.

Pembenahan yang dilakukan harus bersifat fundamental, termasuk dengan menyusun ulang peta jalan bisnis masing-masing perusahaan agar dapat berkelanjutan di masa depan.

Dony Oskaria mengakui bahwa tantangan utama dalam proses ini adalah ketidakseimbangan antara jumlah utang dengan nilai aset yang dimiliki oleh sejumlah BUMN Karya tersebut.

“Ada utangnya, asetnya tidak cukup untuk meng-cover utangnya, ini kan persoalan yang harus diselesaikan satu persatu untuk karya ini,” kata Dony Oskaria.

Setelah melakukan kajian mendalam selama lebih dari enam bulan terkait skenario restrukturisasi, Danantara menargetkan seluruh persoalan BUMN Karya dapat terselesaikan secara tuntas pada akhir tahun 2026.