Jakarta – Turnamen Srikandi Merdeka Cup menjadi wadah strategis dalam pengembangan ekosistem sepak bola putri di Indonesia dengan memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan penonton yang diselenggarakan pada Kamis (20/8/2026).
Dilansir dari Fenesia, turnamen ini berfungsi sebagai sarana kompetisi sekaligus upaya sistematis untuk memopulerkan olahraga sepak bola di kalangan perempuan Indonesia.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Vivin Cahyani, menyatakan bahwa ajang ini memberikan ruang krusial bagi pemain putri untuk mengasah kemampuan bertanding dan menunjukkan potensi mereka di lapangan.
Vivin Cahyani menilai animo masyarakat terhadap sepak bola putri kini menunjukkan tren perkembangan yang positif berdasarkan data jumlah penonton siaran digital.
“Semakin banyak yang mendukung sepak bola putri. Saya mengimbau orang tua yang anak perempuannya bermain sepak bola supaya didukung, termasuk dengan mengantar. Jangan takut kulitnya gelap,” kata Vivin Cahyani.
Keterlibatan RANS Entertainment sebagai official broadcaster dinilai menjadi faktor utama dalam mendongkrak eksposur turnamen tersebut kepada publik luas.
CEO RANS Entertainment, Nagita Slavina, menyatakan kebanggaannya atas partisipasi perusahaan dalam menyiarkan pertandingan sepak bola putri.
Menurut Nagita Slavina, respons penonton sangat menggembirakan, terutama pada laga tim nasional Indonesia melawan Singapura yang menarik lebih dari 120 ribu penonton melalui platform digital.
“Ikut bangga kita menjadi official broadcaster Srikandi Merdeka Cup. Animonya luar biasa. Saat Timnas Indonesia melawan Singapura lebih dari 120 ribu viewers,” ujar Nagita Slavina.
Nagita Slavina berharap penyelenggaraan turnamen dapat terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak peserta pada edisi mendatang.
Pihak RANS Entertainment bahkan membuka peluang untuk terlibat lebih jauh dalam pengembangan sepak bola putri, termasuk kemungkinan inisiasi liga profesional.
Program Director Srikandi Merdeka Cup, Tedy Tjahjono, menjelaskan bahwa pemilihan platform digital merupakan strategi untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Tedy Tjahjono menyebut sepak bola putri di Indonesia saat ini masih berada dalam tahap awal pengembangan sehingga membutuhkan fondasi yang kuat.
“Sepak bola putri di Indonesia kan masih bayi, masih dalam tahap awal. Kami juga ingin supaya pondasinya untuk ke depan itu baik,” kata Tedy Tjahjono.
Penyelenggara sengaja memilih YouTube sebagai kanal penyiaran utama agar aksesibilitas bagi komunitas sepak bola dan masyarakat umum semakin terbuka.
Tedy Tjahjono mengakui capaian 120 ribu penonton berada dalam kisaran ekspektasi, namun tetap menjadi kejutan positif bagi masa depan olahraga ini.
“Iya, itu sesuai dengan ekspektasi. Kami juga cukup terkejut dengan animo seperti itu. Namun, itu merupakan suatu pertanda yang sangat positif untuk sepak bola putri di Indonesia,” ujar Tedy Tjahjono.
Vivin Cahyani menambahkan bahwa ajang ini juga memfasilitasi proses pencarian bakat bagi PSSI untuk pemantauan pemain potensial.
Pemain yang tampil menonjol dalam turnamen ini dapat masuk ke dalam radar pembinaan tim nasional sesuai dengan regulasi usia yang berlaku.
PSSI berharap Srikandi Merdeka Cup mampu menjadi model ekosistem berkelanjutan yang mempertemukan pemain, kompetisi, media, dan penonton dalam satu kesatuan.
Dengan dukungan infrastruktur penyiaran digital yang masif, turnamen ini diproyeksikan menjadi pintu masuk utama untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap sepak bola putri.







