Ecozone

Unilever Komitmen Gunakan Bahan Baku Berkelanjutan di Tengah Tantangan Global

16
×

Unilever Komitmen Gunakan Bahan Baku Berkelanjutan di Tengah Tantangan Global

Sebarkan artikel ini
Papan nama PT Unilever Indonesia Tbk di gedung perkantoran Jakarta
PT Unilever Indonesia Tbk menegaskan komitmen penggunaan bahan baku berkelanjutan di tengah tantangan global.

Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk menegaskan komitmennya untuk tetap menggunakan bahan baku yang aman bagi konsumen dan lingkungan di tengah tantangan pasokan akibat perubahan iklim serta tensi geopolitik global pada Jumat (18/9/2026).

Dilansir dari Katadata, perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) tersebut menyatakan bahwa keberlanjutan telah menjadi inti dari operasional bisnis mereka di sepanjang tahun ini.

Director of Communication, Corporate Affairs, and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk, Nurdiana Darus, menyatakan bahwa perusahaan memantau seluruh rantai pasok hingga ke tingkat akar rumput untuk memastikan standar kualitas yang terjaga.

“Kami tahu supplier kami, bahkan hingga anak supplier; kami memantau apakah sumber kami bagus dan baik, bukan hanya baik untuk manusia, tetapi juga ke lingkungan,” kata Nurdiana Darus dalam sesi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact Katadata SAFE 2026.

Berdasarkan laporan keberlanjutan perusahaan tahun 2025, Unilever Indonesia telah berhasil mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor secara signifikan.

Hingga akhir tahun lalu, sebanyak 60% dari total pemasok bahan baku perusahaan telah beralih menjadi pemasok lokal sebagai langkah strategis memitigasi risiko geopolitik.

Komoditas utama seperti kedelai hitam dan minyak kelapa sawit kini telah dipenuhi melalui rantai pasok dalam negeri yang memenuhi standar keberlanjutan.

Penggunaan kedelai hitam untuk produk kecap manis perusahaan telah memenuhi sertifikasi Sustainable Agricultural Code (SAC) secara penuh.

Sementara itu, verifikasi independen menunjukkan bahwa 98,3% pasokan minyak sawit yang digunakan perusahaan telah terverifikasi bebas dari deforestasi.

Selain aspek lingkungan, perusahaan juga mencatat bahwa 90% pemasok telah mematuhi Responsible Partner Policy (RPP) yang mencakup perlindungan hak asasi manusia.

Penerapan standar ketat ini dinilai sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk-produk Unilever Indonesia di pasar domestik.

Langkah ini selaras dengan temuan riset Katadata Insight Center (KIC) yang menunjukkan bahwa mayoritas konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang mengedepankan keberlanjutan.

Sebanyak 60,5% responden menyatakan bahwa motivasi utama mereka memilih produk berkelanjutan adalah keinginan untuk melestarikan bumi bagi generasi mendatang.

Nurdiana Darus menekankan bahwa keberlanjutan tidak boleh sekadar menjadi program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, melainkan harus terintegrasi ke dalam model bisnis inti.

“Komitmen sustainability memang harus menjadi jantung bisnis perusahaan, tidak bisa hanya di level CSR; perusahaan bertanggung jawab terhadap sustainable ingredients, sustainable packaging, sampai sustainable production,” kata Nurdiana Darus.

Integrasi kebijakan ini diproyeksikan akan memperkuat posisi kompetitif perusahaan di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih hijau dan etis.