Ecozone

IHSG Ditutup Merosot, Faktor Ini Menekan Pasar Saham Indonesia

17
×

IHSG Ditutup Merosot, Faktor Ini Menekan Pasar Saham Indonesia

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik penurunan Indeks Harga Saham Gabungan di bursa efek
IHSG ditutup melemah 0,73% ke level 6.541 pada penutupan perdagangan Jumat, 11 September 2026.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,73% atau sebesar 47,96 poin ke level 6.541 pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026) akibat sentimen negatif global yang menekan pasar modal domestik.

Dilansir dari Katadata.co.id, pelemahan bursa saham dalam dua hari berturut-turut ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh US$ 100 per barel serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed.

Senior teknikal analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa penurunan indeks merupakan akumulasi dari berbagai tekanan makroekonomi global.

“Saya melihat penurunan IHSG dua hari beruntun bukan semata-mata karena perang Timur Tengah, melainkan kombinasi antara eskalasi geopolitik, lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, tekanan rupiah, kenaikan yield global serta aksi profit taking,” kata Nafan Aji Gusta.

Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa pergerakan pasar pada pekan depan akan sangat bergantung pada dinamika konflik geopolitik dan stabilitas harga minyak mentah jenis Brent.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memperkuat sentimen tersebut dengan menyoroti tingginya probabilitas kebijakan moneter Amerika Serikat yang agresif.

“70% probabilitas The Fed akan naikkan suku bunga,” kata Harry Su.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia mencatat volume transaksi mencapai 30,14 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,92 juta kali.

Total nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 14,3 triliun dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 11.470 triliun.

Secara keseluruhan, sebanyak 183 saham ditutup menguat, 453 saham mengalami pelemahan, dan 153 saham lainnya stagnan.

Sektor energi menjadi salah satu yang terdampak signifikan dengan penurunan sebesar 1,22% secara sektoral.

Beberapa emiten energi yang mencatatkan koreksi antara lain PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang merosot 4,06% ke level 945, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) melemah 2,01% ke level 146, dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 2,74% ke level 1.600.

Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big caps juga mengalami tekanan jual yang cukup dalam.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,56% ke level 6.325, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 1,51% ke level 3.270, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 0,23% ke level 4.360.

Sentimen negatif ini turut menjalar ke bursa regional Asia yang mayoritas ditutup di zona merah.

Indeks Nikkei Jepang turun 1,87%, Hang Seng terkoreksi 0,79%, Kospi Korea Selatan berkurang 1,76%, dan Shanghai Composite melemah 1,18%.

Daftar saham yang masuk dalam kategori top gainer hari ini meliputi PT Link Net Tbk (LINK) naik 6,91%, PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) naik 4,79%, dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) naik 3,68%.

Sementara itu, daftar top loser diisi oleh PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang turun 8,16%, PT Indika Energy Tbk (INDY) turun 7,69%, serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang melemah 5,85%.