Jakarta – Perusahaan Danone Indonesia menegaskan komitmennya dalam menerapkan model bisnis ekonomi sirkular sebagai strategi inti untuk menekan limbah plastik dan meningkatkan efisiensi sumber daya pada Kamis (17/9/2026).
Dilansir dari Katadata, Public Affairs and Sustainability Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo menyatakan bahwa inisiatif pengelolaan sampah kini harus diintegrasikan langsung ke dalam perencanaan strategis perusahaan agar tidak sekadar menjadi program tanggung jawab sosial atau CSR.
Karyanto Wibowo menjelaskan bahwa pendekatan ini telah diterapkan melalui merek AQUA sejak tahun 1993 sebagai upaya membangun pertumbuhan jangka panjang.
Ia menyatakan bahwa jika inisiatif ekonomi sirkular sudah menjadi bagian dari model bisnis, setiap tahun dalam perencanaan strategis, topik ini otomatis dibahas, kata Karyanto Wibowo.
Pembangunan ekosistem sirkular tersebut dimulai dari internal perusahaan melalui tim riset yang merancang kemasan agar mudah didaur ulang sejak tahap desain awal.
Dalam tahap pengumpulan, Danone Indonesia bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk sektor informal seperti pemulung dan pengelola bank sampah di seluruh wilayah operasional.
Perusahaan juga mengandalkan gerakan #BijakBerplastik untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah plastik secara bertanggung jawab.
Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian diproses melalui fasilitas daur ulang untuk diolah kembali menjadi bahan baku produksi dengan melibatkan mitra rantai nilai.
Danone Indonesia turut melibatkan pemerintah daerah dalam ekosistem ini mengingat pengelolaan limbah merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan koordinasi lintas sektor.
Seluruh material hasil daur ulang wajib memenuhi standar ketat yang ditetapkan pemerintah, termasuk SNI, sertifikasi halal, dan standar BPOM guna menjamin keamanan konsumen.
Karyanto Wibowo mengakui bahwa pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait regulasi, tata kelola sampah, dan infrastruktur yang belum setara dengan negara maju.
Sejak tahun 2013, perusahaan telah memanfaatkan material recycled polyethylene terephthalate (rPET) dan berhasil meluncurkan botol dengan 100% material rPET pada tahun 2018.
Salah satu tantangan utama penggunaan material daur ulang adalah memastikan kualitasnya setara dengan material virgin atau bahan baku baru sesuai ketentuan pemerintah, kata Karyanto Wibowo.
Keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah juga menyebabkan biaya pengumpulan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan material plastik baru.
Edukasi konsumen menjadi pilar penting agar masyarakat memahami bahwa kemasan plastik bekas memiliki nilai ekonomi sebagai sumber daya berkelanjutan.
Generasi muda saat ini relatif sudah memiliki pemahaman tersebut dibandingkan 30 tahun lalu saat Danone Indonesia mulai mengembangkan inisiatif pengelolaan sampah, ujar Karyanto Wibowo.
Produk berbahan daur ulang yang telah memenuhi standar dipastikan tidak memiliki perbedaan kualitas maupun higienitas dibandingkan produk berbahan material virgin.
Meski demikian, harga produk tetap menjadi pertimbangan konsumen yang sering kali memilih opsi lebih murah meski memahami nilai keberlanjutan produk tersebut.
Danone Indonesia terus berupaya mengoptimalkan rantai pasok untuk menyeimbangkan antara efisiensi biaya dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
Seluruh rincian mengenai kinerja keberlanjutan perusahaan dapat diakses lebih lanjut melalui dokumen Danone Indonesia Sustainability Report.







