Ecozone

Saham Amazon Melonjak 15%, Wall Street Berakhir di Zona Hijau

142
×

Saham Amazon Melonjak 15%, Wall Street Berakhir di Zona Hijau

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik yang menampilkan grafik kenaikan indeks saham di Wall Street, New York.
Bursa saham Wall Street ditutup menguat didorong oleh lonjakan harga saham Amazon.

New York – Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026) yang didorong oleh lonjakan signifikan saham Amazon, meskipun pasar secara keseluruhan masih menghadapi tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Dilansir dari CNBC Internasional, indeks Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan sebesar 1% ke level 25.373,85, sementara S&P 500 tumbuh 0,7% menjadi 7.489,72 dan Dow Jones Industrial Average bertambah 276,97 poin ke posisi 52.485,03.

Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mengalami kenaikan sekitar 4 basis poin menjadi 5,25%, yang merupakan level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan serupa juga terjadi pada obligasi tenor 10 tahun yang menembus angka 4,7%, level tertinggi yang tercatat sejak Januari 2025.

Kondisi pasar obligasi tersebut mencerminkan keraguan investor terhadap komitmen Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam mengendalikan laju inflasi melalui kebijakan moneter.

Meskipun Kevin Warsh telah menegaskan komitmennya dalam memerangi inflasi, pelaku pasar tetap menilai bahwa upaya bank sentral menghadapi tekanan harga masih menyisakan tantangan besar.

Kepala Strategi Ekuitas US Bancorp Asset Management, Terry Sandven, menyatakan bahwa kenaikan yield obligasi tenor 10 tahun yang mendekati level 5% berpotensi menekan sentimen pasar sekaligus valuasi saham.

“Level ini berpotensi menekan sentimen pasar dan valuasi saham,” kata Terry Sandven.

Menurutnya, pasar saat ini bergerak menyerupai roller coaster yang dipenuhi oleh ketidakpastian serta peluang di saat bersamaan.

“Di satu sisi, banyak faktor yang mendukung pasar, namun di sisi lain, konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan mendorong kenaikan harga minyak yang dapat memicu inflasi,” ujar Terry Sandven.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik sekitar 1,3% menjadi US$ 84,67 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent juga mengalami penguatan sebesar 1,2% hingga ditutup pada level US$ 90,12 per barel.

Pergerakan pasar saham turut dipengaruhi oleh dinamika laporan keuangan emiten teknologi besar, terutama perusahaan yang bergerak di sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Saham Amazon melonjak 15% setelah perusahaan membukukan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi analis berkat pertumbuhan bisnis komputasi awan.

Sebaliknya, saham Apple justru merosot lebih dari 7% karena pendapatan dari segmen layanan berada di bawah proyeksi pasar meskipun penjualan iPhone meningkat 22%.

Sentimen positif sebelumnya sempat dipicu oleh kenaikan saham Microsoft sebesar 16% setelah kinerja bisnis komputasi awan Azure melampaui perkiraan.

Reli tersebut menjadi momentum pemulihan setelah indeks Dow Jones sempat anjlok lebih dari 1.100 poin pada Rabu lalu, yang merupakan penurunan harian terdalam sejak April 2025.

Secara akumulatif, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatatkan penguatan sepanjang pekan dengan Dow Jones dan S&P 500 naik sekitar 1%, sementara Nasdaq Composite menguat 1,6%.

Kinerja bulanan menunjukkan variasi di mana S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq melemah 3,2% sepanjang Juli.

Di sisi lain, Dow Jones justru membukukan kenaikan bulanan sebesar 0,3%, yang menandai tren positif selama empat bulan berturut-turut.