Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,15% ke level 17.721 per dolar AS pada perdagangan Senin (24/8/2026) akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran meluasnya defisit transaksi berjalan Indonesia.
Dilansir dari Bloomberg, kurs rupiah sempat dibuka menguat 4 poin ke level 17.690 sebelum akhirnya tertekan hingga sesi penutupan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan mata uang domestik dipicu oleh rencana Amerika Serikat untuk memberlakukan sanksi ekonomi baru yang diklaim sebagai tindakan paling keras.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam kolom opini di Financial Times menegaskan, “D-Day ekonomi bagi Iran akan segera tiba,” katanya.
Bessent dijadwalkan memaparkan rincian sanksi tersebut dalam sebuah konferensi pers resmi.
Rencana tersebut muncul sebagai respons atas kebuntuan diplomatik yang terus berlanjut di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama jajaran pemerintahannya telah berulang kali memberikan peringatan terkait potensi perang ekonomi dengan Teheran.
Pemerintah Iran secara tegas mengecam rencana sanksi baru tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaee mengancam, “Tidak akan ada minyak Iran yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun wilayah Teluk Persia apabila tekanan ekonomi terus berlanjut,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, dinamika ini meningkatkan risiko gangguan pada rantai pasok energi global secara signifikan.
Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sektor jasa mencatatkan kinerja kuat dengan Indeks PMI Jasa S&P Global mencapai 56,8 pada Agustus, melampaui estimasi pasar di angka 54.
Sebaliknya, indeks PMI manufaktur Amerika Serikat justru mengalami perlambatan dari 53,9 menjadi 53,2, yang merupakan level terendah dalam lima bulan terakhir.
Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar kembali mencermati arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi global berpotensi mempersempit ruang bagi The Federal Reserve untuk melakukan pelonggaran moneter.
Dari sisi domestik, sentimen negatif muncul dari data defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 yang membengkak menjadi 12,5 miliar dolar AS atau 3,3% terhadap PDB.
Angka tersebut meningkat tajam jika dibandingkan dengan defisit pada kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 3,6 miliar dolar AS atau 1% terhadap PDB.
Pelebaran defisit dipengaruhi oleh lonjakan impor minyak akibat tingginya harga energi di pasar internasional.
Meski demikian, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan dinilai masih berada dalam kondisi terjaga.
NPI pada kuartal II 2026 mencatat defisit 900 juta dolar AS, jauh membaik dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS pada periode sebelumnya.
Perbaikan NPI ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatatkan surplus 12 miliar dolar AS.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS.
Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi tersebut masih melampaui standar kecukupan internasional yang ditetapkan pada kisaran tiga bulan impor.







