Ecozone

5 Fakta IPO SWAP Entitas UGM: Harga Saham dan Risiko Usaha

79
×

5 Fakta IPO SWAP Entitas UGM: Harga Saham dan Risiko Usaha

Sebarkan artikel ini
Logo PT Swayasa Prakarsa Tbk atau SWAP yang sedang melakukan proses penawaran umum perdana saham
PT Swayasa Prakarsa Tbk resmi memulai proses penawaran umum perdana saham untuk mendukung hilirisasi riset UGM.

Jakarta – Entitas di bawah naungan Universitas Gadjah Mada, PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), resmi memulai proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) dengan target pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada Senin (24/8/2026).

Dilansir dari Katadata.co.id, perusahaan sektor kesehatan tersebut berencana melepas sebanyak-banyaknya 323 juta lembar saham baru ke publik sebagai langkah strategis untuk mendukung hilirisasi hasil riset dan inovasi akademis menjadi produk komersial.

Perseroan menetapkan rentang harga penawaran saham perdana di angka Rp 130 hingga Rp 140 per lembar saham.

Melalui aksi korporasi tersebut, SWAP menargetkan perolehan dana segar mencapai Rp 45,22 miliar dengan menunjuk PT Sukadana Prima Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Dana hasil IPO rencananya akan dialokasikan sebesar Rp 15,8 miliar untuk modal kerja, Rp 12,2 miliar untuk belanja modal, serta Rp 12 miliar untuk pembayaran utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri dan Yayasan Universitas Gadjah Mada.

Terkait pembagian dividen, perusahaan menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan ditentukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham tahunan dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perseroan.

“Jika terjadi kerugian bersih, maka hal tersebut akan menjadi pertimbangan RUPS untuk tidak membagikan dividen,” kata manajemen dalam prospektus perusahaan.

Kinerja keuangan perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 588,87 juta pada periode Januari hingga Februari 2026, namun masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 570,59 juta.

Setelah proses IPO, PT Gama Multi Usaha Mandiri akan tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi kepemilikan sebesar 67,72%.

Universitas Gadjah Mada selaku pengendali yang diwakili Rektor Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. menyatakan tidak akan melepas kendali atas perseroan selama 12 bulan sejak tanggal efektif.

Perusahaan mengungkapkan risiko utama yang dihadapi meliputi tantangan distribusi dan pemasaran produk riset yang memerlukan edukasi pasar secara intensif.

Selain itu, perseroan mewaspadai risiko eksternal seperti fluktuasi nilai tukar mata uang asing, perubahan regulasi pemerintah, serta keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten.

Risiko operasional lainnya mencakup potensi gangguan pada rantai pasok bahan baku dan tantangan dalam proses balik nama aset tanah untuk pembangunan fasilitas baru.

Perseroan juga mencatat adanya risiko likuiditas dan volatilitas harga saham di pasar sekunder yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro serta sentimen investor.

“Perseroan tidak dapat memprediksi tingkat fluktuasi harga saham perseroan setelah penawaran umum perdana,” tulis manajemen dalam prospektus.

Jadwal pelaksanaan IPO meliputi masa penawaran awal pada 24-27 Agustus 2026, diikuti tanggal efektif pada 31 Agustus 2026.

Masa penawaran umum perdana dijadwalkan berlangsung pada 2-8 September 2026 dengan tanggal penjatahan pada 8 September 2026.

Proses distribusi saham dan pengembalian uang pemesanan akan dilaksanakan pada 9 September 2026 sebelum resmi tercatat di bursa.