Jakarta – Pedagang Pasar Tanah Abang menjerit. Omzet mereka anjlok drastis pasca-aksi massa yang terjadi akhir Agustus lalu.
Sepinya pembeli membuat para pedagang di pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara ini merugi.
Mariana, pedagang busana muslim di Blok G, mengungkapkan penurunan pendapatannya sangat signifikan. “Biasanya minimal Rp 800 ribu sehari, sekarang paling Rp 200 ribu,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Nasib serupa dialami Idrus, pedagang kain di Blok B. Ia bahkan mengaku belum ada pembeli yang datang hari itu. “Sampai sekarang belum ada pembeli sama sekali,” keluhnya.
Hendra, pedagang pakaian pria di Blok A, juga merasakan dampak serupa. Pendapatannya anjlok 40-70 persen dibandingkan hari biasa.
Pantauan pada Selasa (2/9/2025) menunjukkan suasana pasar yang lengang. Banyak kios tutup dan pedagang terus menawarkan barang dagangan kepada sedikit pengunjung yang datang.
Richard, pedagang kain lainnya, mengaku sempat menutup tokonya lebih awal saat aksi massa berlangsung. “Tanggal 29 (Jumat) dan besoknya malah tidak buka sama sekali,” katanya.
Ia menduga calon pembeli masih khawatir dengan situasi keamanan.
Namun, ada juga pengunjung yang tetap berbelanja. Dewi, salah satunya, mengaku sudah merasa aman di wilayah Tanah Abang. “Dari kemarin sudah terlihat lebih aman, jadi saya berani ke sini berbelanja,” ungkapnya.







