BeritaEcozone

Bank DBS Indonesia Ungkap Peluang Investasi RI di Tengah Rivalitas Global

91
×

Bank DBS Indonesia Ungkap Peluang Investasi RI di Tengah Rivalitas Global

Sebarkan artikel ini
foto 1
foto 1

Jakarta – Bank DBS Indonesia menggelar DBS Insights Forum 2026 bertajuk “A New Lens on a Multipolar World” untuk membedah arah ekonomi global serta strategi investasi di tengah rivalitas geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok.

Forum lintas disiplin ini menghadirkan pakar kebijakan luar negeri, analis politik, dan praktisi perbankan guna memberikan perspektif strategis bagi investor dalam menavigasi ketidakpastian pasar.

Lanskap ekonomi dunia saat ini kembali diwarnai konfigurasi persaingan dua kekuatan besar.

Kompetisi antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang mencakup sektor ekonomi, teknologi, hingga diplomasi, memicu volatilitas pasar global.

Data Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026 mencatat indeks Amerika Serikat berada di level 55,0, sedangkan Tiongkok berada di angka -20,8.

Di tengah polarisasi tersebut, Indonesia dipandang memiliki posisi strategis sebagai negara middle power dengan stabilitas geopolitik yang terjaga.

Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menegaskan posisi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dekade sebelumnya.

Dino menilai Indonesia beruntung karena statusnya sebagai anggota G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas.

Ia menyebut stabilitas geopolitik Tanah Air relatif aman karena rivalitas global tidak secara langsung berdampak pada keamanan nasional.

Namun, ia menekankan modal tersebut harus dibarengi langkah konkret untuk membangun kepercayaan di mata pasar global.

Terkait strategi investasi, Head of Investment & Insurance Products Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyarankan investor agar fokus pada tren struktural jangka panjang.

Menurut Djoko, investor harus mencermati fundamental kawasan dengan memanfaatkan keunggulan Amerika Serikat di sektor inovasi AI serta pergeseran rantai pasok global yang menguntungkan Asia, termasuk Indonesia.

Daya tahan ekonomi Indonesia dinilai tangguh berkat konsumsi domestik yang kuat serta ketergantungan ekspor yang relatif rendah.

Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, menekankan pentingnya penguatan fundamental domestik agar daya saing negara tetap terjaga.

Ia menyatakan bahwa posisi tawar suatu negara sangat bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi, kepastian regulasi, serta efektivitas birokrasi.

Head of Market Intelligence Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry, menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid untuk mendukung pertumbuhan jangka menengah.

Boy menyoroti keunggulan Indonesia yang terletak pada kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta program hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai tambah industri nasional.

Investasi global di sektor Artificial Intelligence (AI) diprediksi bakal menjadi katalis positif bagi Indonesia yang berperan sebagai produsen mineral strategis.

Meskipun volatilitas pasar masih dipengaruhi kebijakan fiskal dan arah suku bunga, Bank DBS Indonesia menilai visibilitas pasar saat ini jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.