Jakarta – Ketua Umum PP AMPG, Said Aldi Al Idrus, mengecam keras serangan militer AS dan Israel. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Said Aldi menilai serangan itu sebagai preseden buruk dalam hubungan internasional.
“Serangan ini bukan sekadar operasi militer,” kata Said Aldi, Selasa, 3 Maret 2026.
“Ini adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal dan mengancam fondasi perdamaian dunia,” lanjutnya.
Menurutnya, pembunuhan pemimpin negara melalui serangan militer terbuka berpotensi memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Ia menyebut tindakan militer sepihak sebagai pengingkaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
“Apapun dalihnya, pendekatan kekuatan bersenjata yang menghilangkan nyawa dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah kemunduran peradaban,” tegasnya.
Said Aldi juga menyampaikan sikap Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Bahlil mendesak pemerintah Indonesia mengambil posisi tegas di forum internasional.
Tujuannya, menyerukan penghentian kekerasan dan mendorong gencatan senjata.
“Indonesia, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, memiliki tanggung jawab moral untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. Kita tidak boleh diam,” ujarnya.
Ia meminta agar jalur diplomasi diintensifkan, termasuk melalui OKI dan PBB, guna mencegah konflik meluas.
“Jika konflik ini terus bereskalasi, dampaknya bukan hanya regional, tetapi global—termasuk pada stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan internasional,” terangnya.
“Kita harus mendorong dunia kembali pada kesadaran bahwa kekuatan sejati bukan pada rudal dan bom, melainkan pada kemampuan membangun perdamaian,” pungkasnya.





