New York – Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mencatatkan kenaikan signifikan pada Kamis (17/9/2026) yang didorong oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah serta harga minyak global.
Dilansir dari CNBC, pergerakan positif ini mencerminkan upaya pemulihan investor dari kerugian sesi perdagangan sebelumnya pasca kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 316,14 poin atau 0,61% ke level 51.778,04.
Indeks S&P 500 mencatatkan tambahan sebesar 1,14% hingga menetap di posisi 7.637,76.
Indeks Nasdaq Composite mengalami kenaikan paling tajam sebesar 1,69% dan berakhir di level 26.418,30.
CEO The Wealth Alliance, Robert Conzo, menyatakan bahwa penguatan pasar merupakan bentuk kelegaan investor terhadap langkah bank sentral dalam menekan inflasi.
“Reaksi pasar dapat dirangkum dalam satu kata: lega; saya pikir ada rasa lega bahwa The Fed sedang menangani masalah inflasi yang sulit turun,” kata Robert Conzo.
Meskipun demikian, Robert Conzo memperingatkan bahwa pelaku pasar masih harus mewaspadai volatilitas ekstrem yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat memicu tekanan inflasi berkelanjutan yang memaksa peritel membebankan biaya tambahan kepada konsumen.
“Jika harga minyak tetap tinggi, inflasi harga akan diteruskan kepada peritel dan tertanam dalam harga yang mereka bebankan kepada konsumen,” kata Robert Conzo.
Sektor teknologi menjadi motor penggerak utama dengan saham kelompok Magnificent Seven, yakni Nvidia dan Amazon, yang masing-masing mencatatkan kenaikan di atas 2%.
Saham Microsoft turut menguat sebesar 1,5% dalam perdagangan tersebut.
Perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan, Qualcomm dan Intel, juga mengalami apresiasi harga masing-masing sebesar 2% dan 7%.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun tercatat turun lebih dari 7 basis poin menjadi 4,93% setelah sempat menembus level 5% sehari sebelumnya.
Harga minyak mentah AS ditutup melemah 0,51% menjadi US$ 101,91 per barel.
Minyak jenis Brent juga mengalami penurunan sebesar 0,95% ke level US$ 104,82 per barel.
Penurunan harga energi ini dipicu oleh berkurangnya kekhawatiran pasokan setelah Arab Saudi dilaporkan menambah kargo minyak bagi pengilangan di Asia melalui Pelabuhan Sohar, Oman.
Kenaikan ini menjadi pembalik arah dari koreksi pasar pada Rabu yang dipicu oleh keputusan The Fed menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin.







