Jakarta – Sejumlah entitas bisnis di bawah naungan ekosistem Grup Djarum milik keluarga Hartono resmi menjadi pemegang saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) setelah melakukan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham pada Senin (24/8/2026).
Dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, langkah korporasi ini dilakukan melalui enam perusahaan afiliasi yang mengonversi instrumen utang menjadi kepemilikan ekuitas di tengah status suspensi perdagangan saham emiten tersebut.
PT Profesional Telekomunikasi Indonesia mencatatkan porsi kepemilikan terbesar dengan mengakuisisi sekitar 4,84 miliar saham atau setara dengan 10,86% dari total modal ditempatkan dan disetor BTEL.
Eksekusi konversi OWK tersebut ditetapkan pada harga Rp 200 per saham, angka yang jauh melampaui harga terakhir saham BTEL di pasar reguler yaitu Rp 50 per saham sebelum dihentikan perdagangannya oleh otoritas bursa.
Selain Protelindo, entitas lain yang terlibat dalam konversi ini meliputi PT Solusi Tunas Pratama Tbk dengan 888,12 juta saham, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk sebanyak 250,80 juta saham, dan PT Reka Jasa Akses sebanyak 247,49 juta saham.
Daftar pemegang saham juga mencakup PT Komet Infra Nusantara dengan 47,35 juta saham serta PT Sarana Inti Persada sebanyak 35,50 juta saham.
Penambahan jumlah saham baru hasil konversi ini mencapai 6,31 miliar lembar, sehingga total saham BTEL yang tercatat di Bursa Efek Indonesia meningkat dari 38,33 miliar menjadi 44,64 miliar saham.
Perubahan struktur pemegang saham ini berlangsung di tengah ancaman penghapusan pencatatan saham atau delisting yang membayangi emiten telekomunikasi tersebut.
Bursa Efek Indonesia telah menghentikan perdagangan saham BTEL sejak 27 Mei 2019 akibat penerbitan opini Tidak Menyatakan Pendapat atau disclaimer selama dua tahun berturut-turut pada laporan keuangan tahun buku 2017 dan 2018.
Menanggapi potensi delisting tersebut, Corporate Secretary Bakrie Telecom, Purwoko Suatmadji, menyatakan bahwa perseroan terus melakukan upaya perbaikan kinerja keuangan secara berkelanjutan.
“Laporan keuangan BTEL sejak periode 30 September 2020 hingga tahun buku Desember 2024 seluruhnya telah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian dari auditor,” kata Purwoko Suatmadji.
Sebelum masuknya Grup Djarum, posisi pemegang saham BTEL per 31 Juli 2026 didominasi oleh PT Huawei Tech Investment dengan kepemilikan sebesar 16,15% dan PT Mahindo Agung Sentosa sebesar 13,05%.
Data bursa menunjukkan bahwa transaksi konversi OWK ini telah tercatat secara resmi dalam sistem administrasi efek per 20 Agustus 2026.
Hingga saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai rencana strategis Grup Djarum terkait keterlibatan mereka dalam operasional bisnis jangka panjang BTEL.







