Berita

Jusuf Kalla Lacak Pengedit dan Penyebar Video Ceramah di UGM

101
×

Jusuf Kalla Lacak Pengedit dan Penyebar Video Ceramah di UGM

Sebarkan artikel ini
27fd15125dafec3bf9d783934b10d562.jpg
27fd15125dafec3bf9d783934b10d562.jpg

Jakarta – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengerahkan tim ahli teknologi informasi (IT) untuk memburu penyebar video ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diduga telah disunting. Langkah ini diambil menyusul polemik terkait potongan video berdurasi 50 detik yang memicu laporan hukum terhadap dirinya.

JK menegaskan bahwa timnya kini fokus melacak pihak pertama yang mengedit serta menyebarkan potongan ceramah tersebut. Selain melakukan penelusuran mandiri, JK juga meminta kepolisian turun tangan untuk mengungkap identitas pelaku di balik penyebaran konten tersebut.

“Ada tim ahli yang melacak. Siapa yang memulai memasukkan kalimat itu dan siapa yang mengedarkannya? Saya meminta pihak kepolisian untuk mencari tahu,” ujar JK di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026).

Sebagai bentuk klarifikasi, JK mengundang sejumlah tokoh yang terlibat dalam Perjanjian Malino I dan II. Pertemuan tersebut bertujuan memberikan pemahaman utuh mengenai substansi ceramahnya yang sempat menyinggung konflik di Poso dan Ambon pada 5 Maret 2026 lalu.

Sebelumnya, sejumlah organisasi seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Pemuda Katolik melaporkan JK ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut dipicu oleh penggunaan istilah ‘syahid’ dalam ceramah JK yang dianggap menyinggung ajaran agama Kristen dan Katolik.

Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin, menilai pernyataan tersebut menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Senada dengan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, mendesak JK untuk memberikan klarifikasi terbuka atas diksi yang digunakan.

Menanggapi tuduhan tersebut, JK membantah dirinya berniat menyudutkan agama tertentu. Ia menjelaskan bahwa dalam ceramah tersebut, ia justru menekankan bahwa tidak ada ajaran agama yang membenarkan kekerasan atau pembunuhan.

Menurut JK, penggunaan istilah syahid dalam ceramahnya disesuaikan dengan konteks audiens di masjid, yang setara dengan istilah martir dalam ajaran Kristen. Keduanya, menurut dia, merujuk pada pemahaman mati saat membela keyakinan.

JK menegaskan bahwa tujuan ceramahnya adalah sebagai refleksi agar agama tidak lagi dijadikan legitimasi dalam konflik. Ia mencontohkan brutalnya dampak konflik di Poso dan Ambon yang menelan ribuan korban jiwa sebagai pelajaran penting agar peristiwa serupa tidak terulang.