Islamabad – Upaya perundingan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa membuahkan kesepakatan konkret. Ketegangan yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di kawasan menjadi penghambat utama dalam proses negosiasi yang berlangsung selama satu hari tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa atmosfer pertemuan sangat dipengaruhi oleh rasa saling tidak percaya antara kedua negara. Menurutnya, situasi ini merupakan dampak langsung dari perang yang telah berlangsung dalam 40 hari terakhir, yang ia tuding dipicu oleh pihak Amerika Serikat dan Israel.
Kompleksitas Isu Jadi Penghambat
Pembahasan dalam perundingan tersebut mencakup sejumlah isu krusial, mulai dari status Selat Hormuz, program nuklir, tuntutan kompensasi perang, hingga upaya pencabutan sanksi ekonomi. Baqaei mengakui adanya kemajuan dalam beberapa poin, namun perbedaan mendasar pada dua atau tiga isu inti membuat kesepakatan gagal dicapai.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi di masa depan sepenuhnya bergantung pada itikad baik Washington. Baqaei meminta AS agar tidak mengajukan tuntutan yang dianggap tidak sah dan lebih menghormati kepentingan serta hak-hak Iran di kawasan.
AS Sebut Iran Tolak Syarat Washington
Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyoroti kegagalan perundingan tersebut akibat penolakan Iran terhadap syarat-syarat yang diajukan oleh Washington. Ia menekankan bahwa AS tetap berpegang pada tuntutan utama mengenai jaminan keamanan nuklir.
Vance menegaskan bahwa negaranya memerlukan komitmen tegas agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir maupun sarana pendukung yang dapat mempercepat perolehan senjata tersebut. Ia menilai kegagalan kesepakatan ini sebagai kerugian bagi pihak Iran.
Delegasi kedua negara dilaporkan telah meninggalkan Islamabad setelah proses negosiasi selama 21 jam berakhir buntu. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai jadwal perundingan lanjutan antara kedua belah pihak.







