Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menghadapi risiko koreksi lanjutan pada perdagangan Kamis (27/8/2026) akibat dominasi tekanan jual yang terus meningkat di pasar modal domestik.
Dilansir dari riset MNC Sekuritas, analis Herditya Wicaksana menyatakan bahwa posisi indeks saat ini berada dalam fase wave iv dari wave (c) yang mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut.
Investor diminta untuk mencermati pergerakan IHSG yang diperkirakan akan menguji rentang support di level 6.290 hingga 6.394.
“Adapun area penguatan IHSG akan menguji area 6.666,” kata Herditya.
MNC Sekuritas telah menetapkan batas support berada di kisaran 6.373–6.272, sementara level resistance dipetakan berada pada rentang 6.599–6.705.
Dalam analisis teknikal, support didefinisikan sebagai area harga tertentu yang dianggap sebagai titik terendah, di mana daya beli biasanya meningkat sehingga harga berpotensi kembali naik.
Sebaliknya, resistance merupakan tingkat harga tertentu yang menjadi titik tertinggi, yang sering kali memicu aksi jual signifikan hingga menahan laju kenaikan harga saham.
Terkait strategi investasi, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) pada rentang harga Rp 630–Rp 700 dengan target di Rp 820–Rp 865 serta stoploss di bawah Rp 595.
Saham PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) juga mendapatkan rekomendasi serupa pada area Rp 650–Rp 675 dengan target harga di Rp 700–Rp 720 dan stoploss di bawah Rp 640.
Tekanan terhadap indeks ini sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 0,15% ke level Rp 17.731 per dolar AS yang memicu sikap kehati-hatian pelaku pasar terhadap risiko domestik.
Phintraco Sekuritas mencatat bahwa secara teknikal, koreksi yang terjadi membawa IHSG kembali menguji level support psikologis di angka 6.400.
Indikator Histogram MACD saat ini masih bertahan di area positif, namun Stochastic RSI terpantau mulai bergerak turun dari area overbought.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.350–6.450 sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Selain faktor teknikal, pelaku pasar juga merespons langkah Bank Indonesia yang berencana memperkuat pengawasan lalu lintas devisa melalui pemanfaatan teknologi.
Kebijakan tersebut diambil untuk merespons kompleksitas transaksi lintas negara serta mengantisipasi praktik under-invoicing dalam aktivitas ekspor yang berisiko mengganggu stabilitas ekonomi.
Penguatan pengawasan lalu lintas devisa ini diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan data transaksi sekaligus menjaga kedaulatan ekonomi nasional.
“Untuk memperkuat pengawasan, Bank Indonesia akan meningkatkan sinergi dan koordinasi implementasi kebijakan lalu lintas devisa dengan Kementerian/Lembaga dan pemangku kepentingan,” kata Phintraco.
Sebagai tambahan, Phintraco Sekuritas merekomendasikan investor untuk memantau saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).







