Ecozone

OJK Belum Beri Restu, Entitas UGM SWAP Tunda Rencana IPO

10
×

OJK Belum Beri Restu, Entitas UGM SWAP Tunda Rencana IPO

Sebarkan artikel ini
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta
PT Swayasa Prakarsa Tbk resmi menunda rencana IPO di Bursa Efek Indonesia karena belum mendapatkan pernyataan efektif dari OJK.

Jakarta – Entitas usaha Universitas Gadjah Mada, PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), resmi menunda rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sedianya dijadwalkan melantai pada 10 September 2026 karena belum mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Kamis (3/9/2026).

Dilansir dari keterangan resmi Bursa Efek Indonesia, pihak bursa telah menerima surat permohonan penundaan pelaksanaan IPO dari perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan tersebut pada Selasa (1/9) lalu.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengonfirmasi bahwa perusahaan tersebut belum memenuhi syarat pernyataan efektif dari OJK hingga tenggat waktu yang ditentukan.

Kegagalan memperoleh pernyataan efektif tersebut berdampak pada masa berlaku laporan keuangan per 28 Februari 2026 yang digunakan sebagai basis data penawaran umum, yang diketahui hanya berlaku hingga 31 Agustus 2026.

“Swayasa Prakarsa belum memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk melaksanakan penawaran umum,” kata Saidu Solihin.

Dalam rencana awal aksi korporasi tersebut, SWAP menargetkan melepas sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru atau setara dengan 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Harga penawaran saham yang ditetapkan berada di kisaran Rp 130 hingga Rp 140 per lembar saham.

Melalui langkah strategis ini, perseroan berpotensi menghimpun dana segar maksimal sebesar Rp 45,22 miliar dengan menunjuk PT Sukadana Prima Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Dana hasil penawaran tersebut rencananya akan dialokasikan sebesar Rp 15,8 miliar untuk modal kerja guna meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.

Perseroan juga telah merencanakan penggunaan dana sebesar Rp 12,2 miliar untuk kebutuhan belanja modal atau capital expenditure.

Selain itu, sebesar Rp 12 miliar dari dana IPO akan digunakan untuk pembayaran utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri sebesar Rp 2 miliar dan Yayasan Universitas Gadjah Mada senilai Rp 10 miliar.

Dari sisi kinerja keuangan, SWAP mencatatkan pendapatan sebesar Rp 588,87 juta pada dua bulan pertama tahun 2026, yang menunjukkan kenaikan 28,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, perusahaan masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 570,59 juta hingga Februari 2026, meskipun angka kerugian tersebut telah menyusut 41,70% dari periode sebelumnya.

Kinerja tahunan perseroan pada 2025 tercatat mengalami penurunan pendapatan sebesar 30,25% menjadi Rp 7,12 miliar akibat merosotnya penjualan produk ventilator.

Laba bersih perseroan pada 2025 juga mengalami penurunan drastis sebesar 58,97% menjadi Rp 1,42 miliar dibandingkan capaian tahun 2024.

Pasca-IPO, komposisi pemegang saham mayoritas akan dipegang oleh PT Gama Multi Usaha Mandiri dengan porsi kepemilikan sebesar 67,72%.

Universitas Gadjah Mada selaku pengendali perusahaan, yang diwakili oleh Rektor Prof dr Ova Emilia, telah menegaskan komitmen untuk tidak melepas kendali atas perseroan selama 12 bulan sejak tanggal efektif pernyataan pendaftaran IPO.