Batam – Pemprov Kepri berupaya memperkuat pasokan dan stabilitas harga beras untuk dua juta penduduknya.
Upaya ini dilakukan melalui pertemuan bisnis yang difasilitasi Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Pertemuan difokuskan pada skema business to business (B2B).
Skema ini mempertemukan penggilingan padi dari sentra produksi dengan distributor lokal di Kepri.
Tujuannya memutus rantai distribusi, memastikan kontrak pasokan jangka panjang, dan menyinkronkan standar kualitas beras premium.
“Kegiatan ini langkah strategis Pemprov Kepri untuk memastikan ketersediaan beras sekaligus menjaga stabilitas harga,” ujar Wagub Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, Sabtu (17/1/2026).
Nyanyang menekankan ketahanan pangan berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi daerah.
Kepri sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.
Kebutuhan beras di Kepri mencapai sekitar 202 ribu ton per tahun, didominasi permintaan beras premium.
Wagub Nyanyang berharap terjalin kemitraan berkesinambungan antar pemangku kepentingan.
Kelancaran transportasi laut menjadi penentu mengingat kondisi geografis Kepri.
Pertemuan bisnis ini diharapkan menghasilkan solusi konkret menjelang Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan Kemenko Pangan, Bappenas, Bapanas, TNI, Polri, serta pimpinan daerah.
Kehadiran Bulog dan Perpadi memperkuat optimisme akan terjaganya ketahanan pangan di Kepri sepanjang 2026.







