Berita

Proyek Hilirisasi ANTAM Dorong Ekonomi Maluku Utara

94
×

Proyek Hilirisasi ANTAM Dorong Ekonomi Maluku Utara

Sebarkan artikel ini
proyek-hilirisasi-antam-dorong-ekonomi-maluku-utara
proyek hilirisasi antam dorong ekonomi maluku utara

Halmahera Timur – Proyek Industri Baterai EV Terintegrasi di Halmahera Timur mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah Maluku Utara, sejalan dengan agenda hilirisasi mineral yang diprioritaskan pemerintah pusat. Proyek ini diharapkan menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Sherly Tjoanda Laos menyampaikan dalam acara peletakan batu pertama pabrik baterai di Tanjung Buli, Halmahera Timur, pada Rabu (2/7/2025), bahwa hilirisasi sumber daya alam bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi niat besar pemerintah pusat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, termasuk Maluku Utara,” kata Sherly seperti dikutip dari siaran pers.

Sherly menambahkan, dukungan penuh juga datang dari masyarakat adat. Sedikitnya 11 suku di Maluku Utara telah menyatakan kesiapan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

“Karena masa depan bukan semata-mata soal teknologi yang canggih, tapi juga tentang hati yang peduli, tangan yang bekerja, dan komitmen kita untuk memastikan bahwa semua daerah dan semua masyarakat ikut maju bersama,” tegas Sherly.

Menurut Sherly, kehadiran ANTAM bersama mitra strategisnya mencerminkan peran negara dalam menghadirkan pembangunan berkeadilan. Dukungan dari pemerintah pusat, daerah, dan DPR RI menjadi landasan kuat bagi keberhasilan proyek ini dalam membuka akses ekonomi baru dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Achmad Ardianto menegaskan komitmen ANTAM dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. ANTAM akan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan proyek berjalan inklusif dan memberikan dampak nyata.

Proyek di Halmahera Timur ini mencakup pertambangan, pembangunan kawasan industri, serta fasilitas produksi baterai. Rinciannya meliputi pabrik bahan baku baterai dengan kapasitas 30.000 ton katoda per tahun, fasilitas pirometalurgi dengan kapasitas 88.000 ton refined nickel alloy, serta pabrik daur ulang baterai berkapasitas 20.000 ton logam per tahun dengan pendekatan ekonomi sirkular.

Proyek strategis ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja hingga 8.000 orang, disertai dengan pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM lokal secara bertahap.

Ardianto mengatakan, “Kami menyadari bahwa keberhasilan hilirisasi di Maluku Utara sangat bergantung pada dukungan infrastruktur yang memadai. Pembangunan ekosistem baterai ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga momentum transformasi kawasan timur Indonesia.”