Ecozone

Rupiah Berpotensi Menguat Ditopang Harapan Damai di Timur Tengah

1
×

Rupiah Berpotensi Menguat Ditopang Harapan Damai di Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di layar monitor
Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (26/8/2026).

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat pada perdagangan Rabu (26/8/2026) di tengah sentimen positif dari pasar komoditas energi global.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang Garuda tersebut membuka sesi perdagangan di level Rp 17.703 per dolar AS, mencatatkan penguatan sebesar 0,11% atau 21 poin.

Hingga pukul 09.10 WIB, pergerakan rupiah semakin terakselerasi ke posisi Rp 17.695 per dolar AS atau naik 0,16% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup di level Rp 17.723 per dolar AS setelah mengalami pelemahan tipis sebesar 0,03% pada sesi perdagangan awal pekan.

Penguatan mata uang domestik ini diproyeksikan bakal berlanjut sepanjang hari seiring dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia.

Penurunan harga komoditas energi tersebut dipicu oleh meningkatnya harapan pasar terkait potensi penyelesaian konflik di Timur Tengah.

Sentimen positif ini muncul setelah adanya laporan mengenai pembicaraan antara Iran dan Oman terkait upaya pemulihan pelayaran di Selat Hormuz.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah berpotensi menguat seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan ‘koridor maritim gabungan sementara’ di Selat Hormuz,” kata Lukman.

Berdasarkan proyeksi teknikal, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 17.650 hingga Rp 17.750 per dolar AS.

Data dari Reuters menunjukkan harga minyak mentah Brent terkoreksi sebesar 3,59 dolar AS atau turun 3,9% menjadi 88,58 dolar AS per barel.

Level harga minyak tersebut tercatat sebagai posisi terendah sejak 14 Agustus 2026.

Penurunan harga ini terjadi sebagai respons pasar atas inisiatif Iran dan Oman dalam membentuk koridor maritim bersama sementara untuk memulihkan arus pelayaran.

Pembicaraan teknis antara kedua negara tersebut mencakup aspek pengelolaan selat, pertukaran informasi, serta manajemen lalu lintas maritim.

Selain itu, pembahasan tersebut juga mencakup layanan keamanan maritim yang krusial bagi stabilitas pasokan energi dunia.

Negosiasi ini berlangsung di tengah tekanan ekonomi yang dialami Iran akibat berbagai kebijakan yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan diprediksi masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga minyak mentah internasional.