Berita

Aplikasi Kebugaran Picu Rasa Malu dan Demotivasi Pengguna Menurut Studi

98
×

Aplikasi Kebugaran Picu Rasa Malu dan Demotivasi Pengguna Menurut Studi

Sebarkan artikel ini
dampak-negatif-aplikasi-pelacak-kebugaran
dampak negatif aplikasi pelacak kebugaran

Jakarta – Penggunaan aplikasi pelacak kebugaran dan kalori kini mendapat sorotan karena berisiko memicu dampak psikologis negatif bagi penggunanya. Sebuah penelitian kolaborasi dari University College London (UCL) dan Loughborough University menemukan bahwa fitur dalam aplikasi tersebut sering kali menimbulkan perasaan malu ketika pengguna gagal mencapai target yang telah ditentukan.

Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology pada Oktober 2025 ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis puluhan ribu unggahan di media sosial X. Penelitian tersebut difokuskan pada lima aplikasi kebugaran populer, yaitu MyFitnessPal, Strava, WW, Workouts by Muscle Booster, Fitness Coach & Diet, serta FitCoach.

Dari total 58.881 unggahan yang diteliti, tim peneliti melakukan penyaringan terhadap konten-konten bersentimen negatif. Hasilnya, ditemukan 13.799 unggahan yang menunjukkan pengalaman tidak menyenangkan dari pengguna. Banyak di antara mereka mengaku merasa malu saat harus mencatat makanan yang dianggap tidak sehat, merasa terganggu dengan notifikasi aplikasi yang terus muncul, hingga kecewa karena target yang diberikan tidak mampu tercapai.

Penelitian ini juga menyoroti kelemahan algoritme aplikasi yang kerap menetapkan target penurunan berat badan secara tidak realistis. Menurut peneliti, algoritme tersebut cenderung mengabaikan kompleksitas kehidupan nyata, kondisi, serta perbedaan kebutuhan setiap individu.

Sebagai contoh, ditemukan temuan pengguna yang diminta untuk mencapai target kalori negatif 700 per hari demi menurunkan berat badan. Secara fisiologis maupun matematis, target tersebut dianggap tidak masuk akal dan justru berujung pada demotivasi, sehingga banyak pengguna akhirnya memilih untuk menyerah pada target kebugaran mereka.

Menyikapi temuan ini, peneliti mendorong penyedia aplikasi untuk beralih dari regimen yang kaku menuju pendekatan yang lebih holistik. Penulis senior studi dari UCL Institute of Health Informatics, Paulina Bondaronek, mengungkapkan bahwa studi mengenai dampak buruk aplikasi kebugaran sejauh ini masih sangat terbatas.

“Media sosial menyediakan data dalam jumlah besar yang bisa membantu kita memahami dampak ini. Dengan menggunakan AI, kami mampu menganalisis data tersebut lebih cepat,” imbuhnya.

Bondaronek menjelaskan, timnya menemukan banyak ekspresi menyalahkan diri sendiri dalam unggahan pengguna yang merasa tidak berupaya dengan cukup baik. Ia menegaskan bahwa efek emosional semacam itu berpotensi merusak kesehatan dan motivasi jangka panjang seseorang.

Menurutnya, aplikasi kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada metrik keberhasilan yang sempit seperti berat badan. Aplikasi tersebut semestinya memprioritaskan kesejahteraan menyeluruh serta mendorong motivasi instrinsik, seperti kepuasan dari aktivitas fisik itu sendiri.

Ia juga menekankan pentingnya bagi pengguna untuk bersikap lebih welas asih terhadap diri sendiri.

“Kita cenderung pandai menyalahkan dan mempermalukan diri karena mengira itu akan membantu kita menjadi lebih baik, padahal justru berdampak sebaliknya,” tuturnya.

Di sisi lain, Bondaronek mengingatkan bahwa riset ini memiliki batasan karena hanya berfokus pada analisis unggahan bersentimen negatif. Ia mengakui bahwa meski aplikasi tersebut memiliki sisi negatif, kemungkinan besar tetap memberikan manfaat bagi banyak orang.

Sementara itu, rekan peneliti dari UCL Division of Psychology and Language Sciences, Lucy Porter, menyoroti adanya kontradiksi antara tujuan awal aplikasi dengan kenyataan yang dirasakan pengguna. Aplikasi yang seharusnya membantu justru bisa membuat pengguna merasa putus asa.

“Kami tahu dari riset sebelumnya bahwa perasaan malu dan sengsara terhadap diri sendiri tidak mendukung perubahan perilaku jangka panjang yang sehat,” ujar Porter.

Ia menutup dengan menyatakan bahwa tantangan saat ini adalah memahami seberapa luas dampak emosional tersebut bagi moral pengguna, serta mencari cara agar aplikasi kebugaran dapat beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya.