Jakarta, Fenesia.com – Keputusan bek kiri andalan Timnas Indonesia, Pratama Arhan, untuk bergabung dengan Persija Jakarta menjelang musim 2026/27 memicu polemik panjang terkait komitmen masa lalunya.
Pemain asal Blora tersebut memilih untuk merapat ke skuad Macan Kemayoran meski sebelumnya terikat janji lisan maupun tertulis dengan dua klub tanah air lainnya.
Langkah ini diambil Arhan setelah ia menuntaskan masa perantauannya selama empat tahun di luar negeri.
Sepanjang periode tersebut, ia tercatat pernah memperkuat Tokyo Verdy di Jepang, FC Suwon di Korea Selatan, hingga Bangkok United di Thailand.
Kepindahan ini segera menuai sorotan tajam karena adanya gentleman agreement yang sempat dibuat sang pemain bersama mantan klubnya, PSIS Semarang.
Mantan CEO PSIS, Yoyok Sukawi, lantas angkat bicara mengenai kesepakatan yang dibuat pada 21 Januari 2022 tersebut.
“Bahwa sejatinya antara saya dan Arhan memang ada perjanjian tertulis bahwa Arhan boleh bebas berkarier ke luar negeri,” ujar Yoyok Sukawi di Instagram, Rabu (8/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa saat itu pihak klub melepas Arhan tanpa menuntut kompensasi transfer sepeser pun demi karier sang pemain.
“Saya akan melepas dengan ikhlas tanpa kompensasi transfer satu rupiah pun dan nanti apabila kontrak di luar negeri telah selesai dan bermaksud untuk berkarier kembali ke Indonesia, Arhan wajib kembali ke PSIS Semarang,” ujarnya.
Selain PSIS Semarang, Arhan juga diketahui memiliki ikatan serupa dengan Semen Padang.
Kesepakatan tersebut muncul saat ia masih menjadi menantu dari Andre Rosiade, sosok yang memiliki pengaruh besar dalam manajemen klub berjuluk Kabau Sirah tersebut.
Dalam sebuah sesi wawancara dengan Justin Lhaksana pada Juni 2024, Arhan sempat mengonfirmasi adanya batasan waktu untuk berkarier di luar negeri sebelum memutuskan kembali ke liga domestik.
“Bener coach (mertua bilang dilarang kembali sebelum 10 tahun),” kata Pratama Arhan.
Ia menambahkan bahwa komitmen tersebut disaksikan langsung oleh mantan istrinya, Azizah Salsha.
“Ada saksinya juga istri saya. Ya pokoknya 10 tahun lah (abroad),” ujarnya.
Menurut dia, rencana kepulangan ke Indonesia idealnya dilakukan saat ia telah memasuki usia senja sebagai pesepak bola.
“Kalau udah 30 ke atas, udah umurnya mau pensiun, lalu pulang (main di Indonesia),” ujarnya.
Namun, situasi di lapangan saat ini dipengaruhi oleh kondisi finansial dan administratif yang melilit klub-klub peminatnya.
PSIS Semarang dan Semen Padang diketahui sedang berada dalam kondisi yang tidak ideal untuk menampung pemain bintang.
Kedua klub tersebut saat ini tengah menerima sanksi larangan pendaftaran pemain dari FIFA.
Catatan FIFA Registration Ban menunjukkan bahwa PSIS dan Semen Padang masing-masing tercantum dua kali dalam daftar hitam tersebut.
Meskipun klub-klub tersebut masih diperbolehkan berbelanja pemain, mereka tidak memiliki kewenangan untuk mendaftarkan pemain baru dalam kompetisi resmi.
Selain masalah administratif, kedua klub tersebut kini juga harus berjuang di kasta kedua, yakni Liga Championship.
Kondisi tersebut diduga menjadi faktor utama yang membuat Arhan mengabaikan janji masa lalunya demi melanjutkan karier di kasta tertinggi bersama Persija Jakarta.






