Jakarta – PT Espay Debit Indonesia Koe (DANA) secara resmi mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem operasional perusahaan untuk mengoptimalkan layanan pinjaman digital pada Minggu (6/9/2026).
Dilansir dari MSN, langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat proses evaluasi kredit serta penentuan batas pinjaman bagi para pengguna melalui mekanisme credit scoring dan credit decision engine.
Chief Technology Officer (CTO) DANA Indonesia, Norman Sasono, menyatakan bahwa penerapan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam melakukan diversifikasi layanan keuangan yang kini mencakup sektor investasi dan asuransi.
Menurut Norman Sasono, penggunaan AI kini telah berevolusi menjadi agentic AI yang mampu mengeksekusi tugas-tugas spesifik seperti penulisan kode pemrograman dan otomatisasi proses bisnis secara mandiri.
Pihak manajemen DANA menekankan bahwa adopsi AI tidak sekadar berfungsi sebagai alat tanya-jawab, melainkan sebagai mesin penggerak yang memberikan solusi konkret dan penawaran finansial yang lebih personal kepada nasabah.
Perusahaan saat ini gencar melakukan edukasi pasar guna meningkatkan literasi masyarakat agar tidak memandang DANA sebagai platform pembayaran semata, melainkan sebagai ekosistem layanan keuangan yang komprehensif.
Dalam konteks pengembangan bisnis, Norman Sasono menjelaskan bahwa efektivitas AI sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam memantau tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) agar biaya operasional tidak membengkak tanpa hasil yang terukur.
Terkait aspek tata kelola, Norman Sasono menyoroti pentingnya kepemilikan tanggung jawab manusia atas setiap keputusan yang dihasilkan oleh sistem berbasis algoritma tersebut.
“Kalau AI membuat mistake, harus ada single individual human yang accountable untuk AI tersebut,” kata Norman Sasono.
Kebijakan di DANA mewajibkan setiap kepala departemen terkait untuk menanggung beban tanggung jawab penuh apabila terjadi kesalahan fatal akibat keputusan yang diambil oleh sistem AI.
Fenomena adopsi teknologi di Indonesia saat ini dinilai telah mengalami kemajuan pesat dibandingkan dengan tren penggunaan AI pada dua tahun sebelumnya.
Namun, tantangan utama yang dihadapi industri saat ini adalah ketiadaan mekanisme pengawasan yang ketat untuk memastikan hasil kerja AI selaras dengan tujuan bisnis jangka panjang perusahaan.
Penggunaan AI yang tidak efisien berisiko menimbulkan pemborosan sumber daya karena biaya komputasi yang tinggi, yang oleh Norman Sasono disebut sebagai fenomena burn token.
Oleh karena itu, DANA berkomitmen untuk terus menyempurnakan tata kelola teknologi guna memitigasi risiko sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi seluruh pengguna di pasar finansial Indonesia.
Strategi ini diproyeksikan akan menjadi standar baru bagi perusahaan teknologi finansial dalam mengelola risiko kredit dan operasional di masa depan.







