Jakarta – Harga smartphone di pasar Indonesia mengalami lonjakan drastis antara 7% hingga 45% akibat kelangkaan cip memori global yang memicu tekanan biaya produksi pada Minggu (6/9/2026).
Dilansir dari Counterpoint Research, kenaikan harga ini terjadi karena produsen memori mengalihkan lini produksi DRAM dan NAND ke cip pusat data kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.
Kondisi pasar ini menyebabkan pengiriman smartphone di Indonesia merosot 9% secara tahunan pada kuartal I 2026 seiring dengan keputusan konsumen yang cenderung menunda pembelian perangkat baru.
Segmen entry-level dengan harga di bawah Rp 2,7 juta menjadi kelompok yang paling terdampak dengan penurunan pengiriman sebesar 19% secara tahunan.
“Segmen entry-level paling terpukul, konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas,” kata Shilpi Jain, Senior Analyst, Counterpoint Research.
Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas Rp 10,6 juta justru mencatat pertumbuhan sebesar 30% dan memberikan kontribusi tertinggi terhadap total pengiriman sebesar 8,3%.
Tekanan harga ini didorong oleh alokasi 70% produksi memori global untuk cip pusat data AI yang memiliki margin tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan memori untuk perangkat konsumen.
Data IDC mencatat biaya memori mengalami kenaikan tajam hampir 300% pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan harga komponen memori tersebut berdampak signifikan karena komponen ini menyumbang 15%-20% dari total biaya komponen atau bill of materials (BOM) pada ponsel kelas menengah.
Beban biaya pada segmen entry-level bahkan lebih berat karena memori menyumbang lebih dari 65% dari total biaya produksi perangkat tersebut.
Produsen smartphone kini melakukan penyesuaian konfigurasi seperti mempertahankan kapasitas RAM 12GB pada ponsel flagship atau menurunkan spesifikasi modul kamera untuk menjaga harga jual.
Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, menyatakan bahwa perubahan spesifikasi tidak hanya terbatas pada memori tetapi juga mencakup komponen layar dan audio pada sejumlah model.
Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices, Nabila Popal, menegaskan bahwa era smartphone dengan harga sangat murah telah berakhir di tengah struktur biaya komponen yang baru.
Konsumen kini disarankan untuk mengubah pola pemilihan perangkat dengan lebih memprioritaskan daya tahan baterai, konsistensi performa, serta umur pakai perangkat dibandingkan sekadar kapasitas RAM.
Pertimbangan lain yang dianggap krusial adalah ketersediaan suku cadang serta komitmen produsen dalam memberikan pembaruan sistem dan keamanan dalam jangka panjang.
Proyeksi global menunjukkan harga rata-rata smartphone akan mencapai rekor US$ 581 atau setara Rp 10,3 juta pada akhir tahun 2026.
Lembaga riset memprediksi tekanan harga memori akan terus berlanjut setidaknya hingga 2028 karena pabrik baru baru akan beroperasi penuh pada 2027.
Para pengamat industri memperingatkan bahwa harga memori tidak akan kembali ke level tahun 2025 meskipun pasokan nantinya telah kembali normal.
Strategi vendor smartphone ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam menyesuaikan struktur biaya baru untuk menjaga permintaan pasar.







