Ecozone

Erupsi Anak Krakatau Dorong Lonjakan Saham KAEF, OMED, dan DKHH

5
×

Erupsi Anak Krakatau Dorong Lonjakan Saham KAEF, OMED, dan DKHH

Sebarkan artikel ini
Guguran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terlihat dari kejauhan
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu lonjakan permintaan produk kesehatan dan penguatan saham sektor kesehatan di BEI.

Jakarta – Saham-saham sektor kesehatan di Bursa Efek Indonesia mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin (7/9/2026) akibat sentimen darurat bencana erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu lonjakan permintaan produk kesehatan di masyarakat.

Dilansir dari riset BRI Danareksa Sekuritas, sektor kesehatan menjadi pusat perhatian investor karena paparan abu vulkanik berisiko meningkatkan gangguan pernapasan serta iritasi mata, sehingga mendorong kebutuhan mendesak akan masker dan obat-obatan.

Tim riset tersebut menyatakan bahwa sentimen ini berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten yang memiliki eksposur kuat pada produk masker, obat pernapasan, dan alat kesehatan lainnya.

Sejumlah emiten yang terpantau bergerak di antaranya PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS), PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), serta PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA).

Selain itu, perusahaan farmasi dan rumah sakit seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Soho Global Health Tbk (SOHO), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) turut menjadi perhatian pasar.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyebutkan bahwa kenaikan harga saham saat ini berkaitan erat dengan keperluan darurat bencana alam yang mencakup obat-obatan, masker, dan suplemen daya tahan tubuh.

“Yang naik adalah berkaitan dengan keperluan emergency terkait bencana alam,” kata Liza.

Ia menambahkan bahwa saham rumah sakit seperti SILO, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) berpotensi menguat jika terjadi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut.

“Intinya, dalam situasi force majeure seperti ini, kita tidak tahu kapan bencana alam akan berakhir,” ujar Liza.

Analis menekankan bahwa investor perlu mewaspadai risiko volatilitas karena penguatan harga saham saat ini lebih didorong oleh sentimen jangka pendek yang bergantung pada intensitas erupsi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau menyebar hingga ketinggian 15.000 kaki dengan arah pergerakan menuju Barat.

Wilayah yang berpotensi terdampak sebaran abu tersebut mencakup Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sumatra Selatan.

Pada pukul 09.51 WIB, saham MEDS terpantau melonjak 30,56% ke level Rp 94, sementara PT Kimia Farma Tbk (KAEF) melesat 15,91% ke level Rp 510.

Saham PT Cipta Sarana Media Tbk (DKHH) turut menguat 14,71% ke level Rp 78, diikuti oleh PYFA yang naik 6,52% menjadi Rp 294.

Analis menyarankan agar pelaku pasar tetap mencermati volume perdagangan dan keberlanjutan momentum untuk memastikan apakah kenaikan harga tersebut didukung oleh fundamental jangka panjang atau sekadar reaksi sesaat terhadap bencana.