Ecozone

El Nino Ancam Produksi Sawit RI, Harga Berpotensi Melonjak Naik

1
×

El Nino Ancam Produksi Sawit RI, Harga Berpotensi Melonjak Naik

Sebarkan artikel ini
Perkebunan kelapa sawit yang terdampak cuaca kering akibat fenomena El Nino di Indonesia.
Fenomena El Nino diprediksi menyebabkan penurunan produksi minyak sawit nasional tahun depan.

Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan produksi minyak sawit nasional akan menyusut hingga tiga juta ton pada tahun depan akibat dampak fenomena cuaca El Nino yang masih berlangsung, Sabtu (29/8/2026).

Dilansir dari Bloomberg, revisi perkiraan penurunan ini lebih rendah dibandingkan prediksi awal yang sempat mencapai empat hingga lima juta ton karena sejumlah wilayah perkebunan kini mulai menerima curah hujan.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono menyatakan bahwa meskipun angka penurunan telah direvisi, potensi kontraksi produksi tetap tidak terelakkan untuk tahun mendatang.

“Produksi masih memungkinkan turun, tetapi sekitar tiga juta ton tahun depan,” kata Eddy.

Volume sebesar tiga juta ton tersebut setara dengan kira-kira 5% dari total proyeksi produksi nasional tahun ini yang diperkirakan mencapai 56,6 juta ton.

Eddy menjelaskan bahwa kondisi cuaca panas dan kering yang sempat terjadi telah menghambat proses pemupukan di tingkat petani, yang dampaknya baru akan terlihat secara nyata pada hasil panen tahun depan.

Kondisi pasokan global diperkirakan semakin ketat seiring dengan rencana pemerintah untuk menerapkan program kewajiban biodiesel B50.

Prioritas utama pemerintah adalah memenuhi kebutuhan domestik terlebih dahulu, sehingga beban penurunan produksi diprediksi akan lebih menekan volume ekspor minyak sawit Indonesia.

“Pasokan untuk kebutuhan domestik diprioritaskan, sehingga tidak akan ada masalah terkait hal tersebut. Yang akan menurun adalah volume ekspor,” ujar Eddy.

Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menilai bahwa revisi proyeksi produksi dari Gapki ini menjadi katalis utama yang mendorong kenaikan harga referensi minyak sawit di pasar internasional.

Dampak sentimen tersebut terlihat pada kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives untuk pengiriman November yang sempat mencatatkan kenaikan sebesar 1,2% menjadi 4.875 ringgit per ton.

Harga sempat terkoreksi sedikit namun tetap bertahan di level 4.859 ringgit per ton setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 3% dari level tertinggi dalam 20 bulan terakhir.

Fluktuasi harga juga terjadi pada komoditas substitusi, di mana minyak kedelai untuk pengiriman Desember di Chicago naik 2,1% menjadi 69,97 sen AS per pon.

Di Dalian Commodity Exchange, olahan minyak sawit untuk pengiriman Januari tercatat naik 0,6% menjadi 10.109 yuan per ton, sementara minyak kedelai untuk periode yang sama naik 1,2% ke level 8.930 yuan per ton.

Data Bloomberg menunjukkan premi minyak kedelai terhadap minyak sawit kini berada di kisaran US$ 339 per ton, jauh di atas rata-rata tahunan yang biasanya berada pada angka US$ 255 per ton.

Selain itu, diskon minyak sawit terhadap gasoil saat ini tercatat sebesar US$ 35 per ton, kontras dengan rata-rata premi historis selama setahun terakhir yang mencapai US$ 165 per ton.

Kondisi pasar yang semakin terbatas akibat penurunan produksi dan prioritas domestik ini diprediksi akan terus menopang tekanan harga ke arah yang lebih tinggi di masa mendatang.