Vacation

Asal Usul Permainan Tradisional, Randai

987
×

Asal Usul Permainan Tradisional, Randai

Sebarkan artikel ini
Tari Randai
Randai, Warisan Budaya Minangkabau. Foto : Minang Nantigo

FENESIA – Randai merupakan salah satu permainan tradisonal di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok, dengan membentuk ligkaran. Randai,  terdiri  dari lagu, musik, tari, drama dan silat yang digabung menjadi satu.

Randai dipimpin oleh satu orang yang biasa disebut panggoreh. Dimana, selain ikut bergerak dalam legaran ia juga memiliki tugas  mengeluarkan suara teriakan khas misalnya “hep tah tih” dengan tujuan untuk menentukan cepat atau lambatnya tempo gerakan seiring dengan dendang atau gurindam.

Dalam satu grup randai, biasanya memiliki satu panggoreh yang dipercayai oleh seluruh anggota tim. Namun, dikarenakan dalan satu kali mementaskan Randai membutuhkan waktu 1-5 jam, maka panggoreh boleh di ganti semisal kelelahan.

Asal Usul Permainan Randai

Tari Randai
Foto : Internet

Dalam sejarah Minangkabau, Randai memiliki sejarah yang cukup panjang. Konon katanya, Randai sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Tanah datar ketika masyarakat sekitar berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.

Randai, bertujuan untuk menghibur masyarakat yang biasanya diadakan pada saat hari raya Idul Fitri atau pada saat pesta rakyat.

Beberapa sumber menyebutkan, randai berasal dari istilah handai yang mendapat awalan ba menjadi barandai, dan mengacu pada arti obrolan hangat dalam suasan santai dan intim.

Hal ini berdasarkan cerita turun temurun dari masyarakat yang mengatakan, bahwa randai tumbuh dari permainan komunal para pemuda yang dimainkan pada malam hari di halaman surau atau sasaran silek.

Salah satunya adalah sasaran silek atau perguruan silat di daerah pesisir Padang dan Pariangan, Tanah datar, Sumbar.

Para pemuda ini sebenarnya sedang mengasah kemampuan mereka dalam bela diri menggunakan gerakan-gerakan silat, sebagai salah satu skill wajib laki-laki Minangkabau di masa lalu.

Latihan dilakukan dalam formasi legaran yang memiliki pengertian melingkar seperti rantai sebagai simbolisasi kekompakan pemuda Minangkabau.

Kata ‘rantai’ dalam lingkaran ini juga dianggap sebagai asal mula istilah randai dalam tari randai yang berkembang saat ini.

Di tengah legaran pemuda tersebut, berdirilah seorang pangkatuo atau pelatih silat yang menyampaikan pesan melalui syair, dendang, dan gurindam.

Pangkatuo ini kemudian diperankan oleh seorang panggoreh dalam formasi tari randai sekarang.

Para pemuda ini mengenakan celana besar yang disebut celana galembong sebagai salah satu ciri khas kostum perguruan silat.

Dimana celana ini kemudian memberikan efek suara seperti debur ombak ketika melakukan gerakan menepuk celana secara serentak.

Penggunaan celana ini pun masih dipertahankan sebagai identitas randai di jaman sekarang.